Hal ini disampaikan Gobel saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada hari pertama, Gobel menyambangi Kabupaten Sumba Timur, yang dilanjutkan ke Sumba Barat Daya. Di Sumba Timur, Gobel melakukan dialog di kediaman bupati dan perajin tenun ikat Sumba.
Gobel didampingi anggota Komisi IV DPR RI Julie Laiskodat yang juga Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) NTT, anggota Komisi II DPR RI Jacky Uly, anggota Komisi III DPR RI Ratu Ngadu Bonu, dan Bupati Sumba Timur Khristofel A Praing.
Saat berdialog dengan perajin di paguyuban perajin Galeri Atmala Kanatang, Gobel mendengarkan aspirasi mereka yang terkena dampak pandemi. Selain itu juga mengalami kesulitan permodalan dan pemasaran, serta peniruan tenun ikat Sumba dengan kualitas rendah dan menggunakan mesin.
Tentang peniruan, Gobel mengajak masyarakat di daerah tersebut untuk mempatenkan tenun ikat Sumba. "Tenun ikat Sumba lahir dari tradisi dan budaya warisan leluhur yang sangat khas. Kualitasnya tinggi dan nilai-nilainya yang kuat. Ini harus dipatenkan," katanya, Minggu, 4 April 2021.
Selain itu, Gobel mengajak perajin untuk bersatu dalam wadah koperasi agar memudahkan pengadaan bahan baku benang dan pemasaran produknya. "Selain itu bisa memudahkan permodalan serta bisa menjaga harga yang stabil," katanya.
Satu tenun ikat Sumba bisa dibuat dalam waktu enam bulan hingga 1,5 tahun. "Tergantung motif dan warna," kata Ketua Galeri setempat, Ryan.
Dia menjelaskan tenun ikat Sumba yang termahal adalah yang berwarna merah, sedangkan yang lebih murah adalah yang berwarna biru. Pengaplikasian warnanya pun masih menggunakan pewarna alami. Warna merah dibuat dari akar mengkudu, warna biru dari daun nila, dan warna kuning dari batang pohon idju.
Adapun dari tiga warna dasar inilah bisa dibuat warna hitam, misalnya. Sementara untuk motif warna merah membutuhkan 12 kali pencelupan.
"Butuh 130 langkah untuk membuat satu kain tenun ikat. Mulai dari menggulung benang, menyusun benang, mengikat benang, mencelup benang, dan menenun. Pembuatan motif adalah dengan mengikat lalu mencelup. Hal itu dilakukan berulang. Untuk motif, tenun Sumba ada 800 motif, dengan motif dasar rusa, udang, kakaktua, mahang, ular naga, bunga kapas," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News