Petani Kedelai. Foto : Kementan.
Petani Kedelai. Foto : Kementan.

Kementan Manfaatkan Kenaikan Harga untuk Gairahkan Produktivitas Petani Kedelai

Ekonomi kedelai Kementerian Pertanian Kementerian Perdagangan
Suci Sedya Utami • 05 Januari 2021 18:15
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan kenaikan harga kedelai menjadi momentum bagi petani di dalam negeri untuk meningkatkan produktivitas tanaman kedelai.
 
Merujuk Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020, harga acuan pembelian kedelai lokal di petani Rp8.500 per kg dan Rp9.200 per kg di tingkat konsumen. Sementara untuk harga acuan pembelian kedelai impor di tingkat petani Rp6.550 per kg dan Rp6.800 per kg di tingkat konsumen.
 
Saat ini harga kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuaian dari Rp9.000 per kg pada November 2020 menjadi Rp9.300 hingga 9.500 per kg pada Desember 2020 atau mengalami kenaikan sekitar 3,33 persen sampai 5,56 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harga kedelai lokal lagi bagus sehingga petani bergairah mau menanam lagi," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi pada Medcom.id, Selasa, 5 Januari 2021.
 
Kementan menyatakan bakal segera meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.  Produksi kedelai dalam negeri harus dipacu untuk pemenuhan kedelai domestik kedepannya agar dapat dipenuhi secara mandiri.
 
Pasalnya, kebutuhan kedelai setiap tahunya makin bertambah. Pemerintah terus berupaya menekan impor kedelai yang hingga saat ini masih tinggi. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan selama ini petani lebih memilih menanam komoditas lain yang lebih pasti dijual di pasar. Hal ini yang menyebabkan pengembangan kedelai oleh petani sulit dilakukan selama ini.
 
"Tapi kami terus mendorong petani untuk melakukan budidaya. Program aksi nyatanya kami susun dan yang terpenting hingga implementasinya di lapangan," kata Syahrul.
 
Dalam nota keuangan tahun anggaran 2021, pemerintah menargetkan produksi kedelai 420 ribu ton. Namun tahun ini, produksi diperkirakan berkisar 320 ribu ton atau lebih rendah dibandingkan produksi 2019 yang mencapai 420 ribu ton.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif