Dok.MI/Panca Syurkani
Dok.MI/Panca Syurkani

Stok Pangan Asal Hewan untuk Idulfitri Dipastikan Aman

Ekonomi pangan daging idul fitri
Nia Deviyana • 08 Maret 2020 11:15
Jakarta: Beberapa bulan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yakni Idulfitri yang akan jatuh pada Mei 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok pangan asal hewan yang terdiri dari daging ayam dan telur ayam ras serta daging sapi, dalam kondisi aman.
 
Berdasarkan hasil Survei Konsumsi Bahan Pokok (VKBP) tahun 2017 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi daging ayam ras adalah sebesar 12,79 kg/kapita/tahun.
 
Kebutuhan daging ayam ras sampai Mei 2020 diperkirakan sebesar 1.450.715 ton. Sementara berdasarkan potensi produksi daging ayam ras sampai Mei 2020, diperkirakan sebesar 1.721.609 ton.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sampai Mei 2020, diperkirakan terdapat surplus daging ayam ras sebesar 270.894 ton, atau rata-rata surplus sebesar 54.179 ton per bulan," jelas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita melalui keterangan resminya, Minggu, 8 Maret 2020.
 
Sementara terkait telur ayam ras, Ketut menerangkan bahwa berdasarkan hasil Survei VKBP 2017 dan Susenas 2019, konsumsi telur ayam ras adalah sebesar 18,16 kg/kapita/tahun. Kebutuhan telur ayam ras sampai Mei 2020 diperkirakan sebesar 2.059.735 Ton. Sementara berdasarkan potensi produksi telur ayam ras sampai Mei 2020, diperkirakan sebesar 2.084.641 Ton.
 
"Hal ini berarti masih ada surplus sebesar 24.906 ton atau 4.981 ton per bulan," ungkapnya.
 
Di sisi lain, Ketut memaparkan bahwa berdasarkan hasil Survei VKBP 2017 dan Susenas 2019, konsumsi daging sapi atau kerbau adalah sebesar 2,66 kg per kapita per tahun. Kebutuhan daging sapi atau kerbau sampai Mei 2020 diperkirakan sebesar 302.300 ton.
 
Adapun ketersediaan daging sapi atau kerbau sampai Mei 2020 berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 165.478 ton. Berdasarkan data tersebut, masih diperlukan tambahan sebanyak 136.822 ton yang akan dipenuhi melalui impor daging sapi/kerbau sebesar 103.043 ton dan sapi bakalan 252.810 ekor atau setara 56.659 ton daging.
 
Hal tersebut berdasarkan kondisi realisasi impor sampai dengan 5 Maret 2020. "Artinya sampai Mei 2020, kita akan ada akumulasi surplus daging sebanyak 22.880 Ton," ucapnya.
 
Ketut berharap surplus produksi produk pangan asal hewan ini dapat dikelola lebih lanjut menjadi sumber devisa melalui ekspor ataupun diolah menjadi produk olahan untuk menambah nilai jual.
 
“Dengan data-data produksi dan konsumsi tersebut, saya yakin sampai Mei 2020 ini, stok pangan asal hewan mencukupi," tegas Ketut.
 
Menurut Ketut, secara umum, Indonesia sudah mandiri dalam penyediaan protein hewani dalam negeri, untuk kebututuhan daging ayam dan telur ayam ras sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri, bahkan masih ada surplus.
 
Namun, khusus untuk daging sapi, ketersediaannya masih memerlukan dukungan impor. Ketut meyakini bahwa dengan program peningkatan produksi dan produktivitas sapi dan kerbau yang dilaksanakan pemerintah saat ini, swasembada daging sapi dapat tercapai pada 2026.
 
"Kami harapkan dengan ketersediaan stok pangan asal hewan yang cukup ini, harga semestinya tetap stabil sampai selesainya HBKN nanti, dan konsumen bisa tenang,” pungkasnya.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif