Ilustrasi gedung Kementan. Foto: Medcom.id.
Ilustrasi gedung Kementan. Foto: Medcom.id.

Stabilkan Harga Kedelai, Kementan Data Ulang Pasokan

Ekonomi kedelai Kementerian Pertanian harga kedelai
Suci Sedya Utami • 05 Januari 2021 21:28
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menstabilisasikan harga kedelai impor yakni dengan mendata ulang stok. Kementan juga berkoordinasi dengan para importir dan juga Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).
 
"Untuk stabilisasi harga sedang koordinasi dengan importir dan Gakoptindo, mendata stok dan rencana harga kedelai impor, sehingga menjadi stabil," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi pada Medcom.id, Selasa, 5 Januari 2021.
 
Dirinya mengatakan berdasarkan laporan yang ia terima, saat ini ketersediaan stok kedelai impor yang ada digudang mencapai 450 ribu ton.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada Desember 2020 harga kedelai dunia tercatat sebesar USD12,95 per bushels, naik sembilan persen dari bulan sebelumnya yang tercatat USD11,92 per bushels. Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar USD461 per ton, naik enam persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat USD435 per ton.
 
Harga kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuaian dari Rp9.000 per kilogram (kg) pada November 2020 menjadi Rp9.300 hingga 9.500 per kg pada Desember 2020 atau mengalami kenaikan sekitar 3,33 persen sampai 5,56 persen.
 
Faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia. Pada Desember 2020, permintaan kedelai Tiongkok naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.
 
Faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor yakni ongkos angkut yang juga mengalami kenaikan. Waktu transport impor kedelai dari negara asal yang semula ditempuh selama tiga minggu menjadi lebih lama yaitu enam hingga sembilan minggu.
 
Suwandi menjelaskan dampak pandemi covid-19 menyebabkan pasar global kedelai saat ini mengalami guncangan akibat tingginya ketergantungan impor. Peluang ini tentunya dimanfaatkan Kementan untuk meningkatkan pasar kedelai lokal dan produksi kedelai dalam negeri.
 
"Harga kedelai lokal lagi bagus sehingga petani bergairah mau menanam lagi," pungkas dia.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif