Sandiaga mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pelaku kuliner adalah digitalisasi yang kurang merata. Oleh karena itu, Kemenparekraf kini tengah menggencarkan digitalisasi para pelaku kuliner lewat sejumlah program.
"Ada program ada di warung untuk membantu rantai distribusi produk ekonomi kreatif dengan menyalurkan produk kuliner ke dalam jaringan warung-warung dan toko kelontong di Indonesia yang sudah dijalankan tahun lalu dan juga kembali dilakukan tahun ini juga. Kita juga ada program Beli Kreatif Lokal, termasuk kemarin juga ada Beli Kreatif Danau Toba," kata Sandiaga dilansir dari laman resmi Kemenparekraf, Rabu, 17 Maret 2021.
Sandiaga mengatakan melalui program-program ini, pada 2020 Kemenparekraf berhasil mendigitalisasikan empat juta pelaku kuliner dari target dua juta pelaku. Sedangkan, di tahun ini program-program tersebut akan kembali dilakukan dengan target yang lebih besar, yakni sekitar delapan juta UMKM.
Selain itu, Sandiaga menuturkan pihaknya juga melaksanakan sejumlah program pelatihan seperti pelatihan kemasan produk kuliner, bedah desain kemasan, bedah gerai, promosi dan voucher diskon pada event-event di platform e-commerce.
"Program-program ini diharapkan mampu mengangkat nama produk lokal agar tetap eksis dan bisa bersaing," tutur Sandiaga.
Sandiaga juga mengingatkan para pelaku kuliner untuk selalu menerapkan protokol kesehatan Cleanliness, Health, Safety, and Environmental sustainability (CHSE) dalam kegiatan sehari-hari.
"Selain itu, perlu ada kolaborasi, adaptasi, dan inovasi dari kita bersama agar UMKM kuliner kita semakin maju,” jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News