Temuan tersebut berasal dari studi Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights yang dirilis FedEx dan Junior Achievement (JA) pada Rabu, 26 Agustus 2026. Survei terhadap 552 anak muda Indonesia berusia 15-22 tahun menemukan 99 persen responden ingin pendidikan mereka memberikan lebih banyak pemahaman tentang dunia kerja, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 97 persen.
Di sisi lain, anak muda Indonesia menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi dalam berbagai kemampuan yang dibutuhkan di masa depan, mulai dari menciptakan ide, mengambil inisiatif, hingga beradaptasi dengan perubahan.
Anak Muda Indonesia Pede, tapi Tetap Butuh Pengalaman Nyata
Studi yang diinisiasi FedEx dan JA serta diterbitkan JA Institute tersebut melibatkan lebih dari 4.200 anak muda berusia 15-22 tahun di 10 negara dan wilayah Asia Pasifik, termasuk 552 responden dari Indonesia. Hasilnya menunjukkan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis menjadi keterampilan yang paling dianggap penting oleh responden Indonesia untuk 10-15 tahun mendatang.Kepercayaan diri mereka juga relatif tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik. Sebanyak 78 persen responden Indonesia percaya diri menghasilkan ide atau solusi baru, 72 persen berani mengambil inisiatif, 73 persen mampu beradaptasi ketika rencana berubah, dan 69 persen percaya diri bekerja secara mandiri tanpa banyak arahan. Seluruh angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik.
Managing Director FedEx Indonesia, Garrick Thompson, mengatakan anak muda Indonesia memiliki potensi besar yang perlu didukung dengan pengalaman langsung. “Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin mempelajari teori, tetapi juga ingin mendapatkan kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam lingkungan bisnis yang nyata,” ujarnya.
| Baca Juga: Bukan Sekadar Jago Debat, Ini 4 Skill yang Dilatih di Sidang MUN PBB |
Pola Pikir Wirausaha Dinilai Penting di Berbagai Karier
Keinginan mendapat pengalaman praktis juga terlihat dari pandangan anak muda Indonesia terhadap pola pikir kewirausahaan. Sebanyak 95 persen responden menilai pola pikir tersebut dapat membantu seseorang meraih kesuksesan dalam pekerjaan apapun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 85 persen.Hanya 43 persen responden Indonesia yang merasa nyaman bekerja tanpa rutinitas tetap, sementara 56 persen responden di kawasan Asia Pasifik merasa demikian. Artinya, anak muda Indonesia punya fondasi kuat dalam berinisiatif dan beradaptasi, tetapi masih perlu lebih banyak pengalaman menghadapi situasi kerja yang tidak selalu terstruktur.
Menariknya, responden Indonesia tetap menaruh kepercayaan besar pada pendidikan formal. Mereka memperkirakan pendidikan formal akan memberikan sekitar 81 persen bekal yang dibutuhkan untuk sukses dalam karier, dibandingkan 69 persen di Asia Pasifik.
AI dan Perdagangan Global Jadi Tantangan Berikutnya
Kesiapan menghadapi dunia kerja masa depan juga berkaitan erat dengan perkembangan artificial intelligence (AI) dan ekonomi global. Sebanyak 94 persen anak muda Indonesia menilai pemahaman mengenai cara bisnis berjalan di berbagai negara akan relevan bagi karier mereka, tetapi baru 69 persen yang mengatakan sekolah atau universitas telah mengajarkan bagaimana perdagangan lintas negara berlangsung.Hal serupa terlihat pada penggunaan AI, di mana 84 persen responden percaya mereka akan bekerja berdampingan dengan AI, tetapi hanya 70 persen yang merasa pendidikan mereka sudah mempersiapkan penggunaan teknologi tersebut di lingkungan kerja nyata. Anak muda Indonesia juga memberikan porsi lebih besar untuk keterampilan digital dan teknologi dalam kurikulum, yakni 18 persen dibandingkan 12 persen di Asia Pasifik.
President and Chief Executive Officer JA Asia Pacific, Vivek Kumar, menilai pengalaman nyata menjadi bagian penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut. “Kita tidak bisa berasumsi bahwa bakat saja akan cukup bagi anak muda untuk meraih kesuksesan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk membangun keterampilan praktis, meningkatkan kepercayaan diri, dan memahami bagaimana dunia kerja terus berkembang,” ujarnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan formal tetap punya peran penting, tetapi perlu dilengkapi pengalaman yang lebih dekat dengan dunia kerja. Kesempatan untuk mencoba langsung, menghadapi masalah yang tidak terstruktur, menggunakan AI secara bertanggung jawab, hingga memahami bisnis lintas negara bisa menjadi bekal penting bagi anak muda Indonesia menghadapi pasar kerja masa depan. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda