Plastik. Foto : MI/Sumaryanto.
Plastik. Foto : MI/Sumaryanto.

Emiten Daur Ulang Plastik Tingkatkan Pengelolaan Sampah Laut

Ekonomi sampah Industri Plastik
Ilham wibowo • 08 Oktober 2020 10:44
Jakarta: PT Inocycle Technology Group Tbk, perusahaan publik yang mendaur ulang sampah botol plastik berencana memperkuat lini bisnis pengolahan serat daur ulang atau Recycled Polyester Staple Fiber (Re-PSF). Emiten berkode INOV tersebut bertekad terus membantu program Pemerintah mengurangi sampah plastik ke laut sebesar 70 persen pada 2025.
 
Direktur INOV Victor Choi mengatakan bahwa pihaknya saat ini telah mengimplementasikan pengelolaan sampah berkelanjutan dengan pendekatan circular economy. Sampah yang telah terkumpul diolah menjadi plastik kembali atau produk lain yang lain bernilai tambah dan bermanfaat.
 
"Melalui circular economy barang yang sudah tidak terpakai ini akan dijadikan bahan baku untuk membuat barang yang baru atau menambah nilai dari barang yang sudah ada untuk dapat digunakan kembali," kata Victor melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 8 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memaparkan bahwa sampah botol plastik yang setiap bulannya terkumpul 3.000 ton berjenis polyethylene terephthalate (PET). Material tersebut diolah kembali sebagai bahan baku produk Re-PSF dan diturunkan menjadi produk bukan tenunan (non-woven) serta alat rumah tangga.
 
“INOV berupaya untuk mengubah citra buruk Indonesia di atas dengan melakukan ekspansi fasilitas pencucian botol ke seluruh Indonesia, sekaligus untuk mengamankan rantai pasok sampah botol plastik sebagai bahan baku INOV," ungkapnya.
 
Ruang untuk berkembang di bisnis pengolahan sampah botol plastik di Indonesia masih cukup besar. Sebuah riset pada 2015, kata dia, menunjukkan bahwa setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,22 juta metrik ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Kemudian 0,48–1,29 juta metrik ton di antaranya mencemari lautan dan menjadikan Indonesia sebagai produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia.
 
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2019 juga menunjukkan bahwa recycling rate sampah plastik Indonesia hanya berkisar pada angka 10-15 persen. Sementara sisanya sebagian tertimbun di tempat penampungan akhir (TPA) dan sebagian lagi mencemari lingkungan.
 
"INOV sendiri masih memiliki sisa dana hasil IPO tahun lalu sebesar Rp42,6 miliar yang dapat digunakan untuk pengembangan usaha INOV ke depan,” kata Victor.
 
Tahun ini, INOV sudah menambah washing facility di Medan dengan kapasitas produksi sebesar 250 ton per bulan. Aktivitas pengumpulan sampah botol plastik sudah dimulai pada awal Juli 2020 dan nantinya akan dilengkapi dengan pabrik untuk memproduksi Re-PSF dan non-woven dengan kapasitas produksi masing-masing 300-500 ton per bulan.
 
"Selain ekspansi ke Pulau Sumatra, INOV juga berencana untuk menjangkau Pulau Sulawesi dengan mendirikan washing facility di Makassar," tuturnya.
 
Adapun Pendapatan INOV hingga semester I- 2020 relatif stabil, yakni sebesar Rp235,2 miliar atau terkoreksi 0,7 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Produk utama INOV yaitu Re-PSF, masih menjadi kontributor tertinggi terhadap total pendapatan INOV sebesar 72,3 persen.
 
Pertumbuhan pesat berhasil dicatatkan penjualan produk turunan homeware yang membukukan 119,1 persen kenaikan dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, dan berkontribusi sebesar 10,2 persen terhadap total pendapatan INOV. Penjualan produk non-woven juga mencatat pertumbuhan sebesar 21,5 persen pada paruh pertama 2020, dan berkontribusi 17,3 persen terhadap total pendapatan INOV.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif