Sejumlah peserta Rapat Koordinasi dan Pertemuan Teknis (Rakornis) Perwadag melakukan diskusi.
Sejumlah peserta Rapat Koordinasi dan Pertemuan Teknis (Rakornis) Perwadag melakukan diskusi.

Butuh Kolaborasi dan Inovasi Buat Meningkatkan Ekspor Non-Migas

Medcom • 16 Juli 2024 18:35
Jakarta: Perwakilan Perdagangan di Luar Negeri (Perwadag) RI diminta dapat meningkatkan ekspor non-migas. Hal itu penting buat mendorong terwujudnya visi Indonesia emas. 
 
Hal itu diungkap Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat membuka Rapat Koordinasi dan Pertemuan Teknis (Rakornis) Perwadag RI di Luar Negeri, di Melbourne, Australia.
 
"Kami mendukung pelaksanaan Rakornis ini. Kami berharap setiap perwakilan perdagangan dapat menunjukkan kinerja terbaiknya. Mari kita wujudkan visi Indonesia emas dengan semangat kolaborasi dan inovasi," kata Zulkifli Hasan.

Plt. Sekjen Kemendag berharap koordinasi teknis yang dilakukan akan mempercepat pelaksanaan program-program Kementerian Perdagangan yang menjadi tulang punggung pencapaian target Indonesia emas. 
 
"Semoga Rakornis Perwadag 2024 ini memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya target yang telah ditentukan, khususnya peningkatan ekspor nasional," kata Suhanto.
 
Acara tersebut dihadiri 120 peserta dari seluruh perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk Duta Besar WTO di Jenewa, Kepala KDEI di Taipei, para Atase Perdagangan, Konsul Perdagangan di Hong Kong dan para Kepala ITPC. 
 
Agenda iu juga dihadiri perwakilan Kementerian Perdagangan, Plt. Sekretaris Jenderal Suhanto, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Djatmiko Bris Witjaksono, Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Mardyana Listyowati, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan, Kasan, didampingi oleh Atase Perdagangan Republik Indonesia Canberra Bapak Harris Setiawan. 
 
Masih dalam rangkaian rakornis, dilakukan pula kunjungan ke salah satu mitra strategis PT Tata Metal Lestari yaitu industri roll former di Kota Melbourne yang beroperasi sejak 2019 dan telah merambah ekspor ke 20 negara.
 
Head of Government & Public Relations PT Tata Metal Lestari Maharany Putri menjelaskan, IA-CEPA berdampak signifikan pada industri baja tanah air dan Australia dengan meningkatkan peluang perdagangan barang dan jasa, investasi dan kerjasama ekonomi (economic cooperation) kedua negara. 
 
Menurutnya, dengan dibukanya akses bea masuk dari 15% menjadi 0% untuk Hot Rolled Coil (HRC) dan Cold Rolled Coil (CRC) sebanyak 250.000 ton di tahun pertama dan meningkat 5% setiap tahunnya, maka daya saing harga akan produk akhir di kedua negara bahkan di negara ketiga akan tercipta. 
 
Inovasi, knowledge transfer serta penelitian dan pengembangan dalam industri baja lapis hingga konstruksi baja ringan pun teraktivasi sebagai manifestasi dari elemen kerjasama ekonomi yang pasti berujung kepada investasi.
 
"Perjanjian ini terbukti mampu meningkatkan akses pasar dengan mengurangi hambatan dan biaya bagi pelaku usaha yang melakukan ekspor ke Australia. Di sisi lain perjanjian ini juga membuka potensi sumber daya bagi industri baja hilir Indonesia dengan menunjukkan efisiensi biaya dan keadilan harga yang lebih baik. Produk akhirnya juga bisa dikirim ke negara ketiga," kata Maharany.
 
Ia menambahkan, hingga saat ini PT Tata Metal Lestari telah mengekspor baja lapis sebagai bahan baku produk baja ringan struktural dan genteng metal untuk pembangunan rumah di Australia yang cukup pesat peningkatan permintaannya. 
 
Maharany berharap Rakornis Perwadag dan kunjungan ke mitra strategis PT Tata Metal Lestari ini, dapat menjadi bukti kehebatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha yang bertujuan mendorong peningkatan kinerja ekspor non-migas Indonesia.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FZN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan