Amartha Road to Asia Grassroots Forum 2026 (dok. Medcom.id/Fany Wirda Putri)
Amartha Road to Asia Grassroots Forum 2026 (dok. Medcom.id/Fany Wirda Putri)

Sektor Ultramikro Dihantam Perlambatan Jadi Tantangan Nyata Ekonomi Akar Rumput 2026

Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Mei 2026 09:00
Ringkasnya gini..
  • Analisis CELIOS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan dari tren PMI 2025-2026.
  • Meningkatnya harga kebutuhan dan pelemahan daya beli mengancam stabilitas pengusaha ultramikro.
  • Amartha merespons tantangan pasar dengan berfokus menjaga kualitas kredit serta mempertebal pendampingan nasabah.
Jakarta: Ketahanan ekonomi Indonesia di tingkat akar rumput kini sedang diuji oleh dinamika perlambatan makro yang cukup signifikan. Memasuki periode tahun 2025 hingga pertengahan 2026, indikator di lapangan menunjukkan adanya tekanan daya beli yang berimbas langsung pada stabilitas para pelaku UMKM dan bisnis informal.
 
Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, memaparkan analisis tajam mengenai potret riil pelemahan ekonomi domestik yang saat ini sedang dirasakan oleh para pelaku usaha di lapisan bawah.

Fenomena Perlambatan Ekonomi dan Melemahnya Rupiah

Situasi global yang fluktuatif ikut memberikan tekanan pada nilai tukar mata uang domestik, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga-harga barang modal bagi para pengusaha mikro.
 
"Pertumbuhan ekonomi di Indonesia itu mengalami perlambatan. Kalau kita lihat tren, kita di tahun 2025-2026 kita secara dasar itu mengalami perbedaan. Kita melihat bagaimana fenomena perlambatan ekonomi itu terjadi. Bukan hanya dari sisi positif saja, tapi beberapa indikator lainnya juga menunjukkan hal yang serupa, dari hal-hal PMI (Purchasing Managers' Index) misalkan," ujar Huda.

Kondisi pelemahan ekonomi dan penurunan daya beli ini menuntut para pelaku industri tekfin penandanaan atau fintech lending untuk meredefinisi strategi mereka agar kualitas penyaluran modal tetap terjaga dengan sehat.

Fokus Industri Finansial: Menjaga Kualitas Kredit

Menanggapi tantangan perlambatan makro tersebut, pelaku industri menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan kuantitas angka penyaluran dana secara agresif, melainkan memperkuat kualitas manajemen risiko di tengah ketidakpastian.
 
"Tantangan-tantangan yang dihadapi oleh segmen milenial Amartha yaitu, di mana kebutuhan naik, harga juga naik. Jadi saat ini kita fokusnya lebih ke kualitas kredit dan pendampingan itu terus kita lakukan agar ketangguhan ini tetap terjaga, sehingga resiliensi dari nasabah-nasabah ini juga tetap terjaga," pungkas Aria Widyanto, selaku Chief Compliance and Sustainability Officer, Amartha. Sinergi mitigasi risiko ini akan dibahas secara global lewat penyelenggaraan forum internasional Asia Grassroots Forum 2026 pada awal Juni mendatang, yang mengundang ratusan investor global untuk melihat langsung pemanfaatan teknologi tepat guna di akar rumput Indonesia.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan