Risiko kehilangan penghasilan tersebut menjadi perhatian industri asuransi jiwa yang kini ingin memperluas perlindungan kepada masyarakat menengah hingga menengah bawah. Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo, mengatakan upaya tersebut salah satunya akan mengandalkan teknologi, terutama untuk menjangkau masyarakat dengan kemampuan membayar premi yang lebih terbatas.
“Jangan lupakan segmen menengah bawah ini, dan salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi,” ujar Albertus usai konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I 2026 pada Senin, 31 Agustus 2026.
Selama ini, tantangan distribusi membuat produk dengan premi kecil tidak mudah dijual secara konvensional ke seluruh Indonesia. Karena itu, industri mulai melihat teknologi sebagai cara untuk membuat perlindungan lebih terjangkau sekaligus memperluas jangkauan.
Premi Kecil Bikin Distribusi Jadi Tantangan
Menurut Albertus, salah satu kendala utama dalam menyasar masyarakat menengah bawah adalah biaya distribusi. Penjualan yang masih mengandalkan tenaga pemasaran dinilai kurang efisien jika diterapkan pada produk dengan premi kecil dan harus menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
“Kalau pakai orang untuk jual ke seluruh Indonesia, sekecil premi itu tidak mungkin,” jelasnya.
Karena itu, pemanfaatan teknologi dinilai dapat memangkas tantangan tersebut. Albertus menyebut ada perusahaan anggota AAJI yang sudah memanfaatkan teknologi dan ekosistem digital untuk menjual polis dalam jumlah sangat besar.
“Dengan teknologi yang bagus, dengan ekosistem yang bagus mereka, mereka bisa menjual polis sampai jutaan per bulan.Harapan kita lebih bisa menjangkau yang menengah dan menengah bawah, karena mereka juga butuh asuransi,” katanya.
| Baca Juga: Pendapatan Premi Asuransi Mencapai Rp135,2 Triliun per September 2023 |
Saat Masyarakat Menengah Bawah Kehilangan Penghasilan
Perluasan perlindungan ini menyasar kelompok yang penghasilannya sangat bergantung pada kemampuan untuk bekerja, termasuk pengemudi ojek. Ketika sakit atau mengalami kecelakaan, mereka bukan hanya menghadapi biaya pengobatan, tetapi juga risiko kehilangan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Mereka juga butuh asuransi yang sesuai dengan kemampuan mereka dan kebutuhan mereka,” ujar Albertus.
Hal serupa terjadi pada pelaku UMKM kecil yang bisnisnya sangat bergantung pada pemilik usaha. Ketika pemilik mengalami sakit atau kecelakaan, aktivitas usaha dapat ikut berhenti dan berdampak langsung terhadap pendapatan.
“Kalau mereka sakit ataupun dalam kecelakaan, bisnis mereka terhenti,” kata Albertus.
Asuransi Ingin Perlindungan Tak Hanya untuk Orang Berduit
Menurut Albertus, memperluas akses kepada masyarakat menengah bawah merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pertumbuhan industri. Artinya, pertumbuhan tidak cukup hanya dilihat dari kenaikan premi atau jumlah bisnis, tetapi juga dari seberapa luas masyarakat yang mendapatkan perlindungan.
“Kita tidak hanya memikirkan bagaimana orang-orang menengah ke atas protect keuangan mereka, tapi bagaimana misalnya ojek itu juga dilindungi oleh asuransi,” ujarnya.
Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat membuat produk dengan premi yang lebih terjangkau tetap bisa didistribusikan secara luas. Dengan begitu, asuransi diharapkan tidak lagi identik dengan kebutuhan masyarakat berpenghasilan tinggi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perlindungan keuangan pekerja informal dan pelaku UMKM ketika risiko mengganggu penghasilan maupun keberlangsungan usaha mereka. (Wisa Irena Br Sitepu)