"Peremajaan sawit di Kalbar tentu bertahap. Sejauh ini baru mencapai 2.500 ha realisasinya dari target 14 ribu ha," kata Heronimus di Pontianak, dikutip dari Antara, Rabu, 8 Juli 2020.
Hero menjelaskan bahwa peremajaan sawit penting dilakukan lantaran sawit yang ada sebagian masih menggunakan bibit yang sebagaimana mestinya.
"Bayangkan ada potensi kerugian 50 persen kalau menggunakan bibit tidak bermutu. Untuk itu kerugian karena bibit tidak bermutu harus kita hindari dengan melakukan peremajaan," jelas dia.
Menurutnya dengan bibit bermutu maka produktivitas dari lahan sawit petani sesuai harapan. Biaya perawatan dan waktu dikerjasamakan, namun hasil maksimal. Menuju sawit berkualitas dan produktivitas, Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dihadirkan pemerintah sejak 2017 sangat tepat.
"Nah, untuk PSR tentu bertahap dan terus dimaksimalkan. Dari program awal, saat ini umur sawitnya sudah ada dua tahunan. Untuk satu hektare, untuk PSR Rp25 juta dan ke depan bisa saja Rp30 juta," katanya.
Untuk PSR di Kalbar menurutnya didominasi Kabupaten Sanggau, kemudian disusul Landak dan Ketapang. Daerah itu menjadi sentra sawit di Kalbar.
"Sisa perkebunan sawit di Kalbar tersebar di beberapa daerah di Kalbar dan tentu juga ada PSR," katanya.
Sejauh ini katanya total areal sawit di Kalbar mencapai 1,7 juta ha. Berdasarkan umurnya, tanaman muda masih mendominasi yakni sebesar 22 persen. Sedangkan untuk tanaman tua itu ada 31 ribu ha atau hanya dua persen saja.
"Berdasarkan kepemilikannya 30 persen dari sawit rakyat dan sisanya 70 persen dari perusahaan. Untuk produktivitas rata-rata 2,5 ton CPO atau jika rendemen lima persen maka 12,5 ton per hektare per tahun," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News