Kenaikan harga rokok dinilai tk menjamin penurunan prevalensi anak merokok. Foto: Medcom.id.
Kenaikan harga rokok dinilai tk menjamin penurunan prevalensi anak merokok. Foto: Medcom.id.

Harga Mahal Tak Jamin Turunkan Prevalensi Perokok Anak

Ekonomi rokok cukai
Eko Nordiansyah • 06 Oktober 2020 18:19
Jakarta: Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Sulami Bahar mendukung upaya pemerintah dalam menekan prevalensi merokok pada anak. Namun, kenaikan harga sehingga menyebabkan rokok mahal, dinilainya tidak akan menjamin penurunan prevalensi anak merokok.
 
"Tentunya kami sendiri dari industri rokok tidak menghendaki adanya kenaikan prevalensi merokok anak karena kita sudah mengikuti peraturan pemerintah," kata Sulami kepada wartawan dilansir di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2020.
 
Menurut penelitian, sebanyak 43 persen perokok akan memilih beralih ke produk lain jika harga rokok naik. Sedangkan sebanyak 57 persen tidak beralih produk rokok, sehingga harga yang berubah tidak berpengaruh terhadap perubahan konsumsi rokok usia dini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, ada faktor dominan yang menjadi penyebab dari adanya perokok usia dini. Sulami mengatakan, alasannya mulai dari anggota keluarga yang juga merokok, pendidikan, lingkungan sosial, teman sekolah dan kondisi psikologis, dan lain-lain.
 
Sulami berharap, pemerintah dapat fokus dalam mengoptimalisasi kebijakan yang sudah ada. Misalnya melalui program pendidikan wajib belajar, pengadaan program sosialisasi di sekolah, kegiatan di tingkat desa bagi orang tua tentang pengaruh merokok di usia dini, serta penegasan aturan tentang pemasaran terbatas.
 
Menurutnya, upaya edukasi dan sosialisasi merupakan tanggung jawab berbagai pihak mulai dari pemerintah, pihak swasta, dan orang tua. Hanya saja yang diperlukan adalah kerjasama untuk implementasi secara giat tanpa mengubah Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 yang dinilai sudah komprehensif.
 
"Industri rokok keberadaannya sudah sangat tertekan dari kenaikan cukai dan terlebih kondisi perekonomian sedang sulit karena pandemi covid-19. Jangan sampai pemerintah mengkambinghitamkan industri rokok karena hal ini. Industri rokok adalah salah satu sektor padat karya yang menghindari rasionalisasi buruh rokok dan memberikan kontribusi yang nyata tapi tidak diberikan proteksi yang baik oleh pemerintah," tambahnya.
 
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menjelaskan, wacana untuk melakukan perluasan Pictorial Health Warning (PHW) yang terdapat dalam kemasan rokok, dari 40 persen menjadi 75 sampai 90 persen dengan harapan menurunkan angka prevalensi merokok anak.
 
"Pengawasan terhadap anak harus dilakukan agar mereka tidak tergiur dan mencoba. Keberadaan iklan rokok memberikan dampak kepada anak dan perokok pemula akan memanfaatkan kondisi ini," ungkap dia.
 
Perluasan PWH merupakan salah satu poin yang didorong oleh Kementerian Kesehatan dalam merevisi PP 109/2012. Saat ini, PP tersebut telah mengatur instrumen pengendalian rokok, termasuk kebijakan pelarangan penjualan kepada anak di bawah 18 tahun dan wanita hamil, melakukan pembatasan iklan, promosi, dan ketentuan penggunaan peringatan bergambar di kemasan dan iklan rokok.

 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif