Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok Kemenperin.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: dok Kemenperin.

Menperin: Nilai Komitmen Pembelian Produk Dalam Negeri Capai Rp216,77 Triliun

Ekonomi BUMN Produk Dalam Negeri Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Kementerian Perindustrian industri manufaktur Daya Saing pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 10 Mei 2022 17:52
Jakarta: Pemerintah menegaskan perlunya mengoptimalkan pembelian produk-produk industri dalam negeri melalui pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah pusat, daerah, hingga BUMN. Hal ini dinilai mampu membangun kemandirian serta ketahanan ekonomi nasional, bahkan berdampak pada ekonomi rakyat bawah.
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan, saat ini potensi belanja pemerintah pusat dan daerah mencapai Rp1.071,4 triliun, dan Rp400 triliun di antaranya akan diserap melalui belanja produk-produk dalam negeri sepanjang 2022.
 
"Sampai saat ini, tercatat nilai komitmen pembelian Produk Dalam Negeri (PDN) sebesar Rp216,77 triliun dari 18 kementerian/lembaga, 34 pemprov, dan 276 pemkot/pemkab," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agus menegaskan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bertekad untuk terus menjalankan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Program ini bertujuan agar produk industri dalam negeri dapat diserap dalam proyek pengadaan barang dan jasa pemerintah pusat dan daerah, hingga BUMN.
 
"Sampai 7 April 2022, terdapat 13.891 produk industri dalam negeri dengan nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen, dan terdapat sebanyak 7.574 produk industri dengan nilai TKDN antara 25 persen sampai 40 persen," tuturnya.
 
Ia memaparkan program P3DN merupakan langkah konkret keberpihakan terhadap industri dan produk dalam negeri guna memberikan kesempatan bagi industri dalam negeri untuk berkembang dan meningkatkan daya saingnya. "Sehingga para pelaku industri kita juga akan mampu bertarung di kancah global," imbuhnya.
 
Meskipun dihadapkan pada tantangan dan persaingan global sampai dampak pandemi covid-19, sektor industri manufaktur masih menunjukkan kinerjanya sebagai penggerak utama perekonomian nasional.
 
Hal ini tercermin pada sejumlah indikator, di antaranya pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,47 persen pada kuartal I-2022 (yoy), yang melebihi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen.
 
Berikutnya, kontribusi industri pengolahan nonmigas pada kuartal I-2022 adalah sebesar 19,19 persen, yang merupakan angka tertinggi di antara sektor lainnya. Selain itu, untuk kinerja ekspor sektor industri, sampai dengan Maret 2022 sudah mencapai USD50,52 miliar, dengan kontribusi yang mendominasi sebesar 78,83 persen terhadap total ekspor nasional.
 
"Realisasi investasi di sektor manufaktur mengalami peningkatan, pada kuartal I-2022 tercatat sebesar Rp103,5 triliun. Selanjutnya, kondisi Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia juga masih mampu berada di level ekspansif, yaitu berada di posisi 51,9 pada April 2022 ini," pungkas Agus.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif