Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry menyebut bahwa singkong merupakan komoditas pangan yang memiliki tren nilai ekonomi yang tinggi. Selain gula cair, permintaan tertinggi saat ini masih didominasi tepung tapioka.
"Ubi kayu bisa menjadi komoditas strategis nasional," ujar Fadjry, melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 24 September 2020.
Peneliti BB Pascapanen Agus Budiyanto memaparkan teknologi penghasil gula cair dari singkong dilatarbelakangi kebutuhan gula di Indonesia makin lama makin meningkat. Hingga saat ini, impor gula masih perlu dilakukan lantaran sumber gula dari bahan tebu belum mencapai angka maksimal.
"Saat ini BB Pascapanen telah mengembangkan teknologi sederhana untuk menghasilkan gula cair dari pati singkong. Untuk menghasilkan gula cair, pati singkong harus mengalami proses likuifikasi, sakarifikasi, dan evaporasi," paparnya.
Lebih lanjut, Agus menerangkan, langkah pembuatan gula cair singkong bisa sangat mudah diaplikasikan masyarakat sebagai ide usaha baru. Pertama, pembuatan gula cair yakni dengan mencampurkan pati singkong dan air dengan perbandingan 1:3 atau satu kg pati singkong dicampur tiga liter air dan diaduk sampai tidak ada gumpalan.
Selanjutnya yakni proses likuifikasi dengan cara memanaskan cairan dan memasukkan enzim alfa amilase. Perbandingannya satu ml enzim alfa amilase untuk satu kg pati singkong. Agus memberi catatan agar pati tidak menggumpal menjadi semacam lem, maka disarankan agar mencampurkan enzim alfa amilase sebelum dipanaskan selanjutnya diaduk hingga merata.
Saat proses pemanasan, campuran pati akan terjadi perubahan warna secara bertahap dari putih hingga warna kecoklatan. Apabila saat mendidih masih terdapat bintik-bintik berwarna putih, pemanasan tetap dilakukan sampai bintik-bintik putih menghilang.
Hentikan pemanasan saat warnanya coklat jernih. Cairan didinginkan sampai suhu sekitar 60 derajat Celcius, kemudian dimasukkan enzim amiloglukosidase dengan perbandingan satu ml enzim amiloglukosidase untuk satu kg pati singkong dan diaduk selama 5-10 menit.
"Selanjutnya didiamkan minimal selama 24 jam, proses pada tahap ini disebut sakarifikasi," ujarnya.
Setelah tahap tersebut, cairan ditambah dengan arang aktif sebanyak 0,5 persen dan dipanaskan pada suhu 100 derajat celcius selama lima menit. Cairan selanjutnya disaring dengan kain yang rapat dan tebal seperti kain berbahan jins. Proses penyaringan ini akan menghasilkan gula cair dengan dengan total padatan terlarut sekitar 20-25 derajat Brix.
"Karena masih rendah kadar Brix-nya, kita lakukan evaporasi. Dengan proses ini kita akan mendapatkan gula cair singkong dengan kadar 65-70 derajat Brix," pungkas Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News