Capaian ini merupakan hasil optimalisasi implementasi program co-firing biomassa pada seluruh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dikelola perusahaan.
Produksi energi bersih tersebut dihasilkan melalui pemanfaatan 1.140.253 ton biomassa yang bersumber dari berbagai limbah pertanian dan industri, antara lain serbuk kayu ( sawdust ), cangkang sawit, pellet tandan kosong, sekam padi, woodchip , wood pellet , bonggol jagung, limbah racik uang kertas, serta bahan bakar jumputan padat.
Secara paralel, implementasi co-firing tersebut berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi karbon. Hingga akhir 2025, PLN IP berhasil menekan emisi sebesar 1.259.696 ton CO₂ avoided atau meningkat 16 persen dari tahun 2024 sebagai bagian dari dukungan terhadap target penurunan emisi nasional dan peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT).
| Baca juga: Tak Sekadar Energi Bersih, Biomassa Dorong Ekonomi Lokal |
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyampaikan bahwa capaian ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menghadirkan solusi transisi energi yang terukur dan berkelanjutan.
“Implementasi co-firing kami jalankan secara prudent , bertahap, dan berbasis manajemen risiko, sehingga proses dekarbonisasi tidak mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional,” ujar Bernadus dalam keterangan tertulis, Sabtu, 7 Maret 2026.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa strategi pemanfaatan biomassa tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui penguatan rantai pasok domestik dan pemberdayaan sektor pertanian serta industri pengolahan limbah.
“Ke depan, PLN Indonesia Power akan terus meningkatkan skala dan kualitas implementasi co-firing sebagai bagian dari roadmap transisi energi korporasi. Kami berkomitmen menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan, sejalan dengan target EBT nasional dan aspirasi dekarbonisasi jangka panjang,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News