Ilustrasi kakao. Foto: dok MI/Amiruddin.
Ilustrasi kakao. Foto: dok MI/Amiruddin.

Mutu dan Produktivitas Kakao Bergantung pada Kolaborasi Pemerintah

Ade Hapsari Lestarini • 14 November 2022 12:26
Jakarta: Kakao termasuk komoditas unggulan subsektor perkebunan memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia yakni sebagai penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong agribisnis dan agroindustri, serta pengembangan wilayah.
 
Luas areal pengembangan kakao mencapai 1,5 juta hektare (ha) dengan produksi sebesar 721 ribu ton menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara produsen terbesar dunia, bahkan sudah bertransformasi sebagai negara pengolah kakao.
 
Selain itu, komoditas kakao memberikan sumbangan devisa sebesar USD1,24 miliar dan merupakan penghasil devisa terbesar ketiga subsektor perkebunan setelah kelapa sawit dan karet.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melihat capaian ini, Dewan Kakao Indonesia bekerja sama dengan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menyelenggarakan Hari Kakao Nasional ke 10 di JiExpo Kemayoran dengan mengambil tema "Menuju Indonesia sebagai Produsen dan Konsumen Kakao Berkelanjutan".
 
Ketua Dewan Kakao Indonesia Soetanto Abdoellah mengimbau para pelaku usaha, para petani kakao dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan biji kakao nasional, peningkatan mutu kakao, serta produksi kakao olahan yang ada di Indonesia.
 
"Pada kesempatan yang baik ini, mari kita terus semangati para koperasi, Gapoktan dan petani agar bisa berkontribusi dalam meningkatkan produksi kakao nasional," ujar Soetanto, dalam keterangan resminya, Senin, 14 November 2022.
 
Baca juga: Kemendag Pacu Ekspor Kopi, Teh, dan Kakao ke Inggris

Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan terus berupaya untuk bekerja sama dengan stakeholders, Gapoktan/Asosiasi Petani Kakao untuk pemenuhan permintaan kakao yang terus meningkat setiap tahunnya. Dirjen Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah mengapresiasi peran serta pelaku usaha kakao Indonesia, namun perlu bersinergitas agar hasilnya lebih maksimal dari hulu ke hilir.
 
"Kami mengimbau agar para pelaku usaha, petani dan lembaga penelitian bersama-sama pemerintah baik pusat maupun daerah bersinergi serta bekerja sama secara intensif dalam mewujudkan kebun kakao berproduksi tinggi dan berkelanjutan," imbau Andi Nur.
 
Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Ditjen Perkebunan Hendratmojo Bagus Hudoro menyampaikan prospek pasar kakao memerlukan komitmen bersama antar-stakeholder.
 
"Melalui mekanisme peningkatan mutu biji kakao dalam rangka pemenuhan permintaan industri, membuka akses SOP yang dibutuhkan petani dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar/pelaku usaha baik dalam bentuk pelatihan dan pendampingan, keterbukaan pelaku usaha dalam bekerja sama dengan prinsip saling menguntungkan untuk menguatkan rantai pasok khususnya mendapatkan bahan baku untuk memenuhi kapasitas terpasang dan target usaha. Poin paling penting adalah pelaku usaha dapat memberikan insentif harga bagi petani yang berhasil memenuhi SOP sesuai kebijakan," jelas Bagus.
 
Peringatan Hari Kakao kali ini diisi dengan pameran dan lomba diselenggarakan pada 9-12 November dan diikuti oleh 40 peserta dari seluruh Indonesia. Lomba yang diadakan adalah lomba biji kakao, kompetisi beans-to-bar, lomba The Brownie, dan Indonesia Cocoa Plated Dessert.
 
Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika turut berpartisipasi di acara Hari Kakao Nasional ini. "Penyelenggaraaan pameran tematik Kakao dan Cokelat Indonesia di JiExpo Kemayoran Jakarta menunjukkan besarnya animo pelaku industri pengolahan kakao dan cokelat untuk terus memperluas pasarnya di dalam dan luar negeri. Dapat dilihat dari jumlah perusahaan yang berpartisipasi di sini," ucap Putu Juli.
 
(AHL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif