NEWSTICKER
Ilustrasi industri tekstil. Foto: dok Kemenperin.
Ilustrasi industri tekstil. Foto: dok Kemenperin.

Jika Tak Ada Stimulus, Industri Tekstil hanya Mampu Bertahan 3 Bulan

Ekonomi industri tekstil
Ilham wibowo • 24 Maret 2020 08:46
Jakarta: Serapan produk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mengalami penurunan di tengah tanggap darurat virus korona baru covid-19 di Tanah Air. Stok produksi sulit dipasarkan lantaran pusat perbelanjaan seperti Pasar Tanah Abang saat ini sementara tutup.
 
"Market kita lihat tiap minggu berubah terus, Tanah Abang pun sudah banyak yang tidak operasi dan mungkin daya serap tekstil dalam negeri minggu ini akan mengecil," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa melalui video telekonferensi, Senin, 23 Maret 2020.
 
Ia mengaku sulit merinci proyeksi nilai kerugian industri TPT yang dipastikan mengoreksi proyeksi pertumbuhan tahun ke tahun. Saat ini, kata Jemmy, yang bisa dilakukan hanya bertahan agar para karyawan tetap mendapatkan perlindungan kesehatan dan kesejahteraan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masalah PHK sampai hari ini industri tekstil anggota kami yang terpantau masih berjalan full, tapi mungkin ini tiap minggu atau tiap hari perubahannya juga cukup cepat dan kami lihat pangsa market dalam negeri sampai sejauh mana," ungkapnya.
 
Sejumlah rekomendasi stimulus untuk industri ini telah dirancang agar menjadi pertimbangan Pemerintah dalam mempertahankan sektor manufaktur yang telah menjadi prioritas. Menurut perhitungan, industri TPT hanya mampu bertahan selama tiga bulan mendatang bila intervensi tidak dilakukan.
 
"Ekspor sudah mulai ada yang hold delivery, ini kami lihat sejauh kemampuan teman-teman stoknya bagaimana dan cash flow bagaimana, memang PHK ini sangat dilematis dan kita sebagai anggota API sangat hindari terjadinya PHK," ujarnya.
 
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Anne Patricia Sutanto menambahkan bahwa pihaknya bakal mengalihkan produksi garmen untuk fokus mengolah kebutuhan mendesak yakni masker dan Alat Pelindung Diri (APD). Pemerintah pun diminta memberikan kelonggaran impor beberapa komponen bahan baku kimia yang masih sulit didapat di Indonesia.
 
"Kalau perlu kami yang dari garmen jadi perusahaan masker atau APD, itu yang nanti akan kami lakukan, yang penting kami ada supply chain yang baik dan kami harapkan cash flow kami harus terpenuhi," ujarnya.
 
Anne memastikan kelonggaran impor untuk bahan baku masker dan APD ditujukan untuk menunjang tim kesehatan sebagai garda terdepan penanganan wabah. Produk tekstil buatan dalam negeri diharapkan bisa menekan harga yang lebih baik dibandingkan produk jadi dari pengadaan impor.
 
"Khusus untuk APD dan masker, yang dibutuhkan rumah sakit pemeritah dan swasta itu adalah harga yang pantas dan layak, jadi kami minta kalau bahannya sudah terlanjur impor karena stok itu free safeguard dan free bea masuk itu dipakai bukan untuk komersial dan itu untuk kepentingan frontliner," tuturnya.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif