Pengamat energi dari Energy Watch Mamit Setiawan (tengah). Foto Istimewa.
Pengamat energi dari Energy Watch Mamit Setiawan (tengah). Foto Istimewa.

Meski Digempur Transisi Energi, Industri Migas Masih Belum 'Sunset'

Husen Miftahudin • 04 Oktober 2022 19:58
Bandung: Pengamat energi dari Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan proses transisi energi yang tengah berlangsung semakin menguatkan peranan industri hulu migas. Sebab dalam jangka pendek hulu migas masih merupakan sumber pendapatan negara yang strategis, sedangkan untuk jangka panjangnya menjadi penggerak perekonomian nasional.
 
"Perubahan peranan hulu migas tetap memberikan dampak positif lainnya yaitu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan menopang tumbuhnya kapasitas nasional di pusat maupun di daerah. Dengan demikian, industri migas belum memasuki industri yang sunset," tegas Mamit dalam FGD Media Gathering SKK Migas dan KKKS di Bandung, Selasa, 4 Oktober 2022.
 
Menurutnya, kebutuhan energi di era transisi masih akan dipasok energi fosil, termasuk minyak dan gas bumi. Proses menuju net zero emission pada 2060 mendatang membuat perjalanan energi baru terbarukan (EBT) dan energi fosil saling melengkapi dan mengisi dalam bauran kebutuhan energi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kebutuhan energi yang bersumber dari minyak dan gas terus meningkat. Saat ini saja Indonesia adalah net importir minyak dari sejak 2004," tuturnya.
 
Oleh karena itu, lanjutnya, di era transisi energi pemerintah terus meningkatkan produksi minyak agar bisa mengurangi impor. "Sehingga, negara memiliki ruang yang lebih luas untuk mengalokasikan pembiayaan energi terbarukan," sebut dia.
 
Mamit menambahkan, industri hulu migas perlu dukungan besar dari berbagai stakeholders agar kekayaan alam migas dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945.
 
Baca juga: SKK Migas Ajak Daerah Penghasil Migas Tingkatkan Iklim Investasi Hulu Migas

 
Di sisi lain, industri hulu migas dianggap mampu bertransformasi menuju energi yang lebih bersih, dengan cara melakukan efisiensi energi maupun mengembangkan potensi bisnis Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) sebagai salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi karbon dioksida ke atmosfer.
 
Bahkan ke depan, jika bisnis CCS/CCUS menjadi dominan, maka industri hulu migas berubah menjadi industri bersih. Hal tersebut dapat membantu menyerap dan menyimpan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh industri lain, seperti industri semen, industri besi baja, dan lainnya.
 
Hal yang mendesak, jelas Mamit, adalah revisi UU Migas. Beleid tersebut dinilai dapat melindungi atau menjaga keberlangsungan industri hulu migas dan efek gandanya (multiplier effect).
 
"Perlu adanya political will dari semua pihak. Ada atau tidak ada dalam Prolegnas (Program Legislasi Nasional), karena amanat revisi UU Migas adalah merupakan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika setiap saat ada political will, maka revisi UU Migas bisa dibahas pemerintah dan DPR," pungkas Mamit.
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif