Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra - - Foto: Instagram
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra - - Foto: Instagram

Garuda Indonesia Dukung Proses Hukum di Kasus Suap Pesawat Bombardier

Ekonomi Garuda Indonesia Kasus Suap indonesia-inggris emirsyah satar tersangka
Suci Sedya Utami • 06 November 2020 17:23
Jakarta: Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mendukung proses hukum terkait dugaan kontrak penjualan pesawat Bombardier pada periode 2012. Saat ini lembaga antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office, tengah menyelidiki dugaan penyuapan produsen pesawat Bombardier itu.
 
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya secara aktif berkoordinasi dengan otoritas terkait dalam upaya penegakan hukum terhadap kasus tersebut.
 
"Dukungan Garuda Indonesia terhadap upaya penegakan hukum ini selaras dengan mandat yang diberikan pemerintah kepada kami untuk terus memperkuat implementasi Good Corporate Governance pada seluruh aktivitas bisnis perusahaan," kata Irfan dalam keterangan resmi, Jumat, 6 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan begitu, ia meyakini Garuda Indonesia dapat secara konsisten menjaga lingkungan bisnis yang bersih dan transparan secara berkelanjutan selaras dengan visi transformasi BUMN.
 
"Kami berkomitmen secara berkelanjutan dan aktif mendukung upaya penegakan hukum tersebut," pungkas dia.
 
Sebelumnya, lembaga penegak hukum di Inggris, Serious Fraud Office (SFO), memulai penyelidikan terkait korupsi Bombardier dan Garuda Indonesia. Kasus ini berhubungan dengan kasus suap yang menjerat mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia 2005-2014 Emirsyah Satar.
 
Kasus suap Emirsyah telah bergulir hingga vonis yang diperkuat dengan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta. Emirsyah yang mengajukan banding tetap dihukum delapan tahun penjara seperti putusan pengadilan tingkat pertama.
 
"Menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 8 Mei 2020 Nomor 121/Pid.Sus-Tpk/2019/PN.Jkt.Pst yang dimintakan banding tersebut," dikutip Medcom.id dari laman Mahkamah Agung (MA), Senin, 3 Agustus 2020.
 
Emirsyah dinilai menerima uang dengan jumlah keseluruhan Rp8,859 miliar, US$884.200, 1.020.975 euro, dan 1.189.208 dolar Singapura.
 
Uang suap berasal dari Airbus SAS, Roll-Royce Plc, dan Avions de Transport regional (ATR), serta Bombardier Canada. Uang mengalir lewat Hollingsworld Management International Ltd Hong Kong dan Summberville Pacific Inc.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif