Ilustrasi. Foto: Antara/Khairizal
Ilustrasi. Foto: Antara/Khairizal

Industri Perlu Cari Alternatif Bisnis Baru di Masa Pandemi

Ekonomi perindustrian virus corona
Suci Sedya Utami • 13 Mei 2020 11:31
Jakarta: Pandemi covid-19 memberikan dampak variatif bagi berbagai industri di Tanah Air, tidak terkecuali di sektor utilitas atau pendukung lainnya.
 
Misalnya saja dampak buruk dirasakan oleh industri aviasi sebagai industri paling terpuruk setelah sektor pelayanan. Namun di sisi lain menjadi peluang bagi perusahaan penyedia barang seperti Petrokimia dalam meningkatkan profit dan market share pupuk. Tidak hanya itu PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) juga berhasil membalikan keadaan dengan inovasi dan berada dalam posisi yang menguntungkan.
 
Founder & Chairman MarkPlus Inc Hermawan Kartajaya mengatakan terdapat dua tipe perusahaan dalam menghadapi tekanan atau ancaman. Pertama perusahaan yang bisa berkembang atau tumbuh (growing) di tengah tekanan. Kedua perusahaan yang mengalami penurunan (declining).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hermawan menduga di kuartal pertama atau kedua bagi perusahaan yang declining seperti sektor aviasi memang akan mencoba untuk berjuang atau bertahan hidup (surviving). Sementara untuk industri servis akan tumbuh.
 
"Pupuk ini growing karena mendapat tugas menyalurkan utilitas, jadi harus servicing lebih baik. Utilitas itu bukan hanya listrik dan air," kata Hermawan dalam virtual roundtable bertajuk perspektif industri infrastruktur dan utilitas, dikutip Rabu, 13 Mei 2020.
 
Petrokimia Gresik misalnya, mampu menjadi bisnis yang tumbuh karena berhasil melihat peluang untuk melakukan inovasi dan mengatur produk pupuk agar lebih kompetitif hingga meningkatkan market share. Bahkan Petrokimia Gresik berhasil membuat rekor ekspor yang terpecahkan di kuartal awal 2020.
 
“Salah satu bahan baku di Petrokimia Gresik itu asam sulfat yang bahan bakunya dari sulfur. Harga asam sulfat itu nol atau bahkan kalau sampai Indonesia itu gratis seperti halnya minyak, tapi anehnya harga sulfur terus tinggi. Kita akhirnya melakukan rekonfigurasi produksi dengan mematikan satu pabrik sulfuric acid, menutup kekurangannya dengan mengimpor sulfuric acid yang bisa kita dapatkan secara gratis, sehingga produk kita menjadi lebih kompetitif, profit lebih besar,” papar Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi dalam acara tersebut.
 
Di sisi lain, Direktur Utama PT Anggara Pura I (Persero) Faik Fahmi menyadari ketergantungan terhadap suatu aspek bisnis memang perlu dihindari dan harus segera mencari peluang lain demi berjalannya bisnis.
 
Ia mengakui penurunan yang signifikan pada industri aviasi sejak adanya covid-19 karena tidak adanya penerbangan untuk penumpang. Sumber pemasukan bagi bandara saat ini hanya bersumber pada aktivitas logistik yang hanya memberikan kontribusi sangat kecil.
 
“Kalau kita melihat number of traffic saat ini penurunannya di Mei hingga 95 persen, lima persen hanya untuk melayani angkutan logistik," kata Faik.
 
Hal tersebut pun berdampak pada pendapatan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu. Alhasil, hal ini berdampak pada investasi yang dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur bandara yang digarap AP I. Faik mengatakan pihaknya terpaksa menunda pengerjaan beberapa bandara. Namun proyek yang mendukung pariwisata terkait destinasi pariwisata super prioritas tetap berjalan.
 
Selain itu, untuk menekan penurunan pendapatan di tengah situasi saat ini, AP I mengoptimalkan lini bisnis subsidiaries di bidang retail dan servis yakni untuk urusan logistik dan kargo.
 
Menanggapi permasalahan tertundanya pembangunan infrastruktur, mantan Deputi Kementerian BUMN Ahmad Bambang menilai pembangunan infrastruktur memang menjadi salah satu prioritas utama kebijakan yang diterapkan oleh Presiden Jokowi untuk mendukung konektivitas.
 
Sebagai negara berkembang, ada lima tantangan utama yang dihadapi Indonesia salah satunya infrastruktur yang berimbas pada faktor logistik. Infrastruktur yang buruk akan memengaruhi harga barang sehingga berdampak ke daya saing. Pemerataan infrastruktur dinilai bisa menjadi hal yang positif untuk mendukung sektor pariwisata dan UMKM setelah pandemi berakhir.
 
“Sektor pariwisata menjadi prioritas untuk mendongkrak ekonomi, sayangnya saat ini terkena dampak paling besar dari covid-19. Konektivitas dari sisi data juga penting. Makanya Palapa Ring menjadi prioritas utama untuk mendorong akses bagi UKM. Bagaimana UKM kita bisa masuk pasar dunia kalau internet saja tidak ada,” jelas Ahmad.
 
Dalam survei yang dilakukan oleh MarkPlus selama sekitar satu minggu terakhir lewat 165 responden, kondisi infrastruktur di Indonesia dinilai sudah terbangun cukup baik meskipun masih ditemukan adanya kerusakan seperti kondisi jalan berlubang dan tidak rata.
 
Kerusakan yang terjadi juga belum diimbangi dengan sistem pelaporan yang mumpuni sehingga perlu adanya peningkatan sistem pelaporan dengan pemanfaat teknologi. Selain itu pemeliharaan dan pengawasan infrastruktur dan utilitas masih membutuhkan peningkatan dengan pengadaan CCTV di titik-titik fasilitas umum tertentu.

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif