Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Wawancara Khusus Ekonomi

Menjaga Pintu Udara dari Virus Korona

Ekonomi Virus Korona angkasa pura 1 Wawancara Khusus Ekonomi
Suci Sedya Utami • 11 Maret 2020 16:55
VIRUS korona terus menginfeksi perekonomian dunia dan memberikan tekanan cukup dalam terhadap aktivitas ekonomi di masing-masing negara, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan, kombinasi dari virus korona dan melemahnya harga minyak dunia sempat membuat pasar saham dunia pada awal pekan ini atau Senin, 9 Maret 2020 terjun bebas.
 
Pemerintah Indonesia terus berupaya agar virus korona tidak meyebar lebih luas ke seluruh wilayah. Meski sekarang ini virus tersebut sudah menginfeksi beberapa orang, namun bukan berarti pemerintah menghentikan langkah menekan masuknya virus dengan nama ilmiah covid-19 itu di Tanah Air.
 
Pemerintah pun mengerahkan semua upaya yang bisa dilakukan guna menekan masuknya virus tersebut melalui pintu masuk, baik di darat, laut, maupun udara. Dalam konteks udara, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah memberikan perintah kepada Angkasa Pura I untuk menekan masuknya virus tersebut lewat pintu udara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lantas, seperti apa yang dilakukan Angkasa Pura I untuk menekan penyebaran virus tersebut melalui bandara yang dinaunginya, bagaimana strategi Angkasa Pura I, dan lain sebagainya? Berikut penjelasan Direktur Operasi Angkasa Pura I Wendo Asrul Rose kepada Suci Sedya Utami dari Medcom.id. Berikut kutipannya.

Dari 15 bandara yang dikelola Angkasa Pura I yang sudah teridentifikasi ada penumpang yang terinfeksi virus korona?

Tidak ada.


Kalau warga Jepang yang disebut menunjukkan ada gejala terinfeksi virus korona?

Oh itu di Bandara Ngurah Rai Bali. Itu ada. Tapi sudah diamankan. Jadi prosedurnya ketika dia datang lewat termoscanner merah. Lalu setelah itu dilakukan pemeriksaan khsusus. Sekarang di Rumah Sakit Sanglah di Bali.

Apakah ada lagi yang mencurigakan atau menunjukkan tanda-tanda terpapar virus korona yang masuk radar Angkasa Pura I?

Belum sih, baru di Bali saja.


Apakah suhu tubuh dan laporan perjalanan mereka baik?

Baik. Itu kejadian di Bali. Begitu dia terindikasi sudah langsung dibawa sama KKP (Karantina Kesehatan Pelabuhan) lalu dilakukan perawatan. Jadi dalam hal ini, leading sector untuk penanganan semacam itu adalah KKP. Angkasa Pura I di mana tugasnya? Menyiapkan fasilitas, memberikan sosialisasi terkait, kita kasih tahu virus korona, dan imbauan-imbauan. Lalu bagaimana caranya bandara kita cegah sebagai area yang bisa menyebabkan orang tertular. Itu yang menjadi kewajiban bandara, menyiapkan fasilitas. Nah itu yang kita siapkan. Tapi kalau termoscanner itu area KKP karena petugasnya itu kan orang yang harus punya sertifikasi di bidang itu.


Tantangan dan hambatan bagi Angkasa Pura I dalam melakukan upaya antisipasi penyebaran virus korona?

Kalau tantangannya bagaimana caranya melakukan proses pencegahan dan pengawasan supaya virus korona ini tidak menyebar di bandara. Itu tantangannya. Yang kita lakukan tadi (memberikan) disinfektan, kemudian karyawan dikasih stok alat pelindung diri (APD), frontliner kemudian ada hand sanitizer. Tantangannya yaitu supaya di bandara tidak crowded. Jadi kita lihat dimana pun, di luar negeri pun dengan kondisi seperti ini pasti terjadi crowded. Bagaimana caranya mengurai crowded itu. Nanti Health Alert Card (HAC) dari hasil rapat kemarin yang sudah berjalan dibagikan di atas pesawat.


Apakah pembagian health alert card sudah berjalan?

Sudah. Tapi dari KKP kemarin ada lagi pertemuan dengan airlines untuk lebih intens lagi memberikan penyuluhan. Bagaimana sih orang mengisinya juga bingung, begitu sampai di bawah. Jadi kurang lebih seperti itu tantangannya bagaimana mengisi itu (health alert card), supaya tidak terjadi penumpukan di bandara, dan bagaimana kita mengaturnya. Kalau pesawatnya yang besar berapa sih standarnya yang memberikan pelayanan untuk memeriksa health alert card itu. Itu kan harus dibaca bukan cuma dikumpukan. Itu domainnya KKP.


Sudah dimulai dari kapan koordinasi KKP dengan pihak bandara?

Dari sejak awal ramai virus korona sudah jalan (koordinasi KKP dengan otoritas bandara termasuk Angkasa Pura I).


Apakah disetiap bandara ada Tim KKP? Berapa banyak orang yang siap siaga?

Ada. Tergantung bandaranya dan tergantung jumlah penerbangannya (terkait jumlah petugas di Tim KKP yang siaga di tiap bandara).


Selain Bali, bandara mana lagi yang terdampak virus korona?

Bukan terdampak, karena memang penerbangan internasionalnya banyak.


Selain di Bali apa lagi?

Kalau yang bicara (penerbangan menuju ke) Tiongkok itu ada banyaknya charter flight. Itu ada di Manado, dan ada di Solo. Tapi kan sekarang sudah tidak terbang (yang charter flight). Tapi tidak berjadwal karena namanya juga charter.


Itu penerbangannya langsung ke Tiongkok?

Iya betul internasional flight charter. Jadi dia ke beberapa kota di Tiongkok.


Terkait upaya pencegahan virus korona apakah ada tambahan biaya?

Ya pasti lah, tapi enggak dihitung lah. Itu bagian dari preventif bandar udara. Kita belum hitung berapa sih dampaknya penyemprotan disinfektan, pembersihan. Itu kan extra dari yang kita lakukan biasanya. Jadi memang ada tambahan yang kita lakukan dan itu pasti ada biayanya. SDM juga terkait dengan alat pelindung diri dan sebagainya itu memang ada tambahan biaya yang kita keluarkan. Kita belum menghitung extra cost tersebut. Yang kita fokus lakukan sekarang adalah bagaimana bandara sebagai salah satu area publik, bagaimana caranya orang nyaman, dan kita bisa meyakinkan pengunjung bahwa kita sudah lakukan proses pencegahan, dan pengawasan dengan baik.


Pengumpulan health alert card baru yang di Bali apakah meresahkan?

Tidak. Ya penumpang internasional. Kan sudah ditangani dengan baik.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif