Ilustrasi Solar bersubsidi. Foto : MI/Panca Syaukarni.
Ilustrasi Solar bersubsidi. Foto : MI/Panca Syaukarni.

Menteri ESDM Temukan Mobil Mewah Konsumsi Solar Bersubsidi

Annisa ayu artanti • 09 April 2022 20:26
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menemukan mobil mewah mengkonsumsi solar bersubsidi saat melakukan sidak di empat  Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan, Sumatera Utara.
 
Mobil mewah yang dimaksud merupakan mobil jenis Sport Utility Vehicle (SUV), Multi Purpose Vehicle (MPV), serta truk industri/pengangkut hasil pertanian yang mengisi BBM jenis Biosolar.
 
"Pemerintah mengalokasikan solar subsidi untuk masyarakat yang perlu dibantu, bukan untuk industri-industri yang melakukan bisnis yang komersial," katanya melalui keterangan tertulis, Sabtu, 9 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia juga mengimbau kepada industri yang masih menggunakan solar subsidi untuk mengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan BBM yang tidak bersubsidi.
 
"Supaya tidak mengurangi jatah masyarakat yang berhak mendapatkan alokasi BBM subsidi," imbuhnya.
 
Di SPBU 11209108 Rest Area KM 65A, Kabupaten Serdang Bedagai contohnya, Arifin mengingatkan keluarga yang sedang menggunakan mobil sewaan agar jangan menggunakan solar subsidi.
 
Demikian juga saat berbincang dengan Daf, supir truk yang membawa air mineral dari Binjai ke kota Padang, Arifin memberikan pemahaman bahwa BBM Subsidi hanya untuk masyarakat yang berhak.
 
"Bilang sama Bos, harusnya jangan pakai Biosolar, tapi pakai Pertadex," ucap Arifin.
 
Menanggapi hal tersebut, Daf pun mengungkapkan dirinya hanya dibekali uang BBM untuk jenis biosolar. Ia mengaku sedikitnya tiga kali mengisi solar dengan jumlah masing-masing 100 liter, yaitu di Serdang Bedagai, Balige, Padang Sidempuan, sebelum akhirnya kembali diisi setibanya di Padang.
 
Menurutnya, antrean kendaraan yang mengisi BBM kerap terjadi di wilayah Balige, hingga 2 jam lamanya. Tidak jarang setelah antre, dirinya tidak mendapatkan BBM sehingga harus membeli di pengecer dengan harga mencapai Rp7.500 per liter.
 
"Biasanya di SPBU Rp5.150, kalau di pengecer Rp7.500, tapi masih bisa dapat barangnya (solar)," ungkap Daf.
 
Arifin juga menjelaskan perlunya pembatasan penggunaan solar subsidi. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan harga minyak dunia dan suplai yang sulit.
 
"Kalau tidak bisa kita displinkan akan menyebabkan jumlah subsidi dan kompensasi Pemerintah akan besar," ujar Arifin.
 
Sementara itu, Nicke Widyawati mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada kelangkaan di wilayah Kota Medan karena pasokan BBM terus ditambah. Dari empat SPBU yang didatangi, kondisi stok aman dan tidak ada antrean panjang.
 
"Kondisi sudah stabil, tidak ada masalah. Seluruh daerah kita lakukan pemantauan, kita cek," jelas Nicke.
 
Diketahui, untuk 2022, kuota BBM jenis minyak Solar di Provinsi Sumatera Utara adalah sebesar 1.077.670 kilo liter (KL), sedangkan kuota Pertalite sebesar 680.293 KL yang tersebar di 33 kabupaten per kota.
 
Penyaluran biosolar 2022 untuk wilayah Sumatera Utara sudah melebihi 111 persen dari kuota. Adapun Region Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) total penyaluran sampai dengan 6 April 2022 sudah melebihi kuota sebesar 8 persen.
 
Sementara, penyaluran Pertalite pada tahun 2022 sudah melebihi kuota sebesar 227 persen. Adapun total di Region Sumbagut sampai dengan 6 April 2022 sudah melebih kuota sebesar 32 persen.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif