Rohim, Pedagang ikan gabus di Pasar Perumnas Palembang, mengatakan, walau harga sudah turun jika dibandingkan Iduladha lalu tapi tetap saja sepi pembeli.
Harga ikan gabus segar sudah di harga rendah Rp40 ribu per kilogram (kg) dari biasanya Rp55 ribu per kg tapi tetap saja pemasukan tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkannya.
"Pernah saya termakan modal sendiri, ya artinya rugi. Mau bagaimana lagi, pasar sepi, banyak pedagang dibandingkan pembelinya," kata Rohim, dikutip dari Antara, Senin, 26 Juli 2021.
Senada, Ali, pedagang tahu dan tempe di pasar tersebut juga mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat ini yang sangat terasa setelah perayaan Iduladha. "Saya terpaksa buang tempe dan tahu ini, karena sudah busuk, tak ada yang beli," kata Ali.
Menurut pedagang ini penurunan daya beli disebabkan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membuat masyarakat banyak beraktivitas di rumah. Berdasarkan pantauan Antara, harga sejumlah kebutuhan masyarakat bergerak turun dibandingkan sepekan lalu.
Di antaranya, ayam potong dari Rp27 ribu per kg menjadi Rp24 ribu per kg dan ikan segar yakni ikan patin dari Rp25 ribu per kg menjadi Rp22 ribu per kg, ikan nila Rp28 ribu per kg menjadi Rp25 ribu per kg, ikan gurami Rp40 ribu per kg menjadi Rp35 ribu per kg.
Sementara untuk sayuran relatif stabil, cabai merah Rp20 ribu per kg, bawang putih Rp28 ribu per kg, bawang merah Rp35 ribu per kg, wortel Rp8.000 per kg, wortel impor Rp12 ribu per kg, kentang Rp14 ribu per kg, dan tomat Rp12 ribu per kg.
Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Selatan menilai mulai terjadi pelemahan daya beli karena dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya penerapan PPKM. "Iya, dari sisi permintaan saat ini masih melemah," kata Kepala BI Perwakilan Sumatera Selatan Hari Widodo.
Sebelumnya, Bank Indonesia selaku Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengingatkan para pemangku kepentingan di Sumsel untuk fokus pada ketersediaan logistik selama masa PPKM tahap pertama, 14-20 Juli 2021.
Ini penting untuk menjaga agar tidak terjadi kelangkaan bahan pokok, yang dikhawatirkan akan berimbas pada kenaikan harga. Ternyata, selama periode tersebut, BI memantau pasokan bahan kebutuhan pokok terbilang terpenuhi di Sumsel.
Namun, fakta di lapangan yang didapati menunjukkan harga-harga mulai bergerak turun, di antaranya ayam potong. "Tentunya inflasi yang rendah ini tidak bagus untuk perekonomian. Oleh karena itu, semua pihak harus mendorong dari sisi ekonomi," tambah dia.
Provinsi Sumatra Selatan mengalami deflasi pada Juni 2021 senilai 0,01 persen dipicu oleh penurunan harga cabai merah, bawang merah angkutan udara, beras, dan daging ayam ras. Sementara kondisi pada Juli 2021, BPS akan merilis hasil pendataannya pada awal Agustus 2021, untuk mengetahui apakah Sumsel mengalami inflasi atau deflasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News