Maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Foto: MI/Sumaryanto
Maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Foto: MI/Sumaryanto

Kementerian BUMN Tak Ingin Garuda Jadi Beban untuk Holding Pariwisata

Suci Sedya Utami • 05 Oktober 2021 20:32
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) buka suara mengenai maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) yang tidak jadi masuk dalam struktural anggota holding pariwisata.
 
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan Kementerian BUMN ingin agar 'penyakit' yang ada di Garuda Indonesia disembuhkan terlebih dahulu sebelum bergabung dalam holding, terutama yang menyangkut kondisi keuangan.
 
Pasalnya, pada semester I-2021, maskapai pelat merah  ini masih mencatatkan kerugian USD898,65 juta atau setara Rp13,03 triliun (asumsi kurs Rp14.500/USD). Kerugian bersih yang diatribusikan pada pemilik entitas induk ini bahkan lebih dalam 26,08 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang dialami maskapai sebesar USD712,72 juta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kementerian BUMN tidak ingin terburu-buru memasukkan Garuda Indonesia ke dalam holding dengan tujuan untuk menyelamatkan persoalan maskapai pelat merah itu, dan bisa jadi berdampak buruk bagi anggota holding lainnya.
 
"Jangan dulu, nanti mengganggu dan menjadi beban. Bukan mengembangkan malah nanti menurunkan (kinerja holding)," kata Arya dalam bincang dengan media secara virtual, Selasa, 5 Oktober 2021.
 
Ia bilang pihaknya masih menunggu hasil dari restrukturisasi yang dilakukan oleh Garuda Indonesia. Kementerian BUMN ingin agar penggabungan perusahaan pelat merah ke dalam holding dalam kondisi yang sehat.
 
"Kita mau lihat dulu finance-nya. Kau kondisi finance-nya enggak memungkinkan ya jangan dimasukkan. Kasihan anak-anak perusahaan lainnya. Jadi kita tunggu saja proses restrukturisasinya," jelas Arya.
 
Dirinya menambahkan pembentukan, pengesahan holding pariwisata, serta penunjukkan komisaris dan direksi yang baru dikukuhkan juga dianggap tepat. Apalagi saat ini pemerintah berencana akan membuka kembali pintu penerbangan internasional yang mendatangkan wisatawan mancanegara.
 
"Momennya dapat, kasus korona turun. Pariwisata mulai dibuka kembali. Bali sudah mulai masuk penerbangan internasional. Jadi artinya sudah buka untuk turis asing," tandas Arya.
 
Adapun PT Aviasi Pariwisata Indonesia akan menjadi pemimpin dari holding BUMN pariwisata. Plt. Asisten Deputi Bidang Jasa Pariwisata dan Pendukung Kementerian BUMN Endra Gunawan mengatakan keberadaan PT Aviasi Pariwisata Indonesia sebagai pemimpin holding akan bermanfaat bagi seluruh pelaku di sektor pariwisata. Holding akan menjadi motor penggerak sektor pariwisata guna memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha.
 
Untuk tahap pertama, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) menjadi pemimpin Holding BUMN Pariwisata yang beranggotakan PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), dan PT Sarinah (Persero).
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif