Peluang tersebut disoroti Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dalam pembukaan ON2MOTIONFEST yang berkolaborasi dengan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 yang menjadi bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
Riefky menekankan pentingnya memperluas akses pasar bagi desainer Indonesia dan menyebut kegiatan tersebut sebagai wujud kolaborasi untuk memperkuat industri fashion nasional.
“Event ini merupakan manifestasi nyata sinergi dalam memperkuat ekosistem fashion Indonesia sekaligus membuka peluang karya kreatif nasional untuk terhubung dengan industri dan pasar global,” ujarnya.
Kekayaan budaya dan desain khas Indonesia dinilai menjadi modal untuk memperluas pasar produk fashion. Menurut Riefky, peluang tersebut tidak hanya terbuka di negara-negara mayoritas Muslim, tetapi juga di negara-negara Eropa dan pasar internasional lainnya.
Ia menilai keunikan desain Indonesia dapat menjadi pembeda ketika bersaing dengan produk dari negara lain. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, desainer, pelaku usaha, dan mitra industri dibutuhkan agar karya lokal dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Kami sangat yakin ini akan masuk ke pasar dunia dan tentu membutuhkan kolaborasi semuanya,” kata Riefky.
Namun, memperluas pasar saja tidak cukup, Riefky juga menekankan pentingnya menjaga hasil karya desainer melalui perlindungan hak kekayaan intelektual. Ia mengingatkan bahwa desain, motif, dan merek memiliki nilai ekonomi yang perlu dilindungi dan dikembangkan.
“Desain, motif, merek bukan sekadar identitas produk, tetapi juga aset ekonomi yang perlu dilindungi dan dikembangkan agar memberikan manfaat optimal bagi pencipta dan pelaku usaha,” ujarnya.
Fashion Bisa Menarik Wisatawan untuk Belanja Produk Lokal
Selain membuka peluang bisnis internasional, fashion juga berpotensi menjadi daya tarik pariwisata. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menilai fashion dapat menjadi salah satu daya tarik wisata melalui konsep shopping tourism atau wisata belanja.
“Fashion can inspire people to discover fascination,” ujar Widiyanti.
Ia menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap koleksi desainer dapat menginspirasi wisatawan untuk mengunjungi sentra kerajinan, bertemu dengan para perajin, mempelajari proses produksi, hingga berbelanja langsung.
Melalui wisata belanja, pemerintah berharap pengalaman wisatawan menjadi lebih berkesan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi desainer dan perajin lokal.
Widiyanti juga menyoroti potensi kegiatan fashion, seperti peragaan busana dan pameran, untuk menarik lebih banyak pengunjung serta menggerakkan sektor pendukung, termasuk kuliner dan transportasi. (Wisa Irena Br SItepu)