"Covid-19 ini memicu kita sadar, di dunia kesehatan bicara alkes dan obat hampir seluruhnya produk impor, bahan obat hampir 100 persen impor dan paling banyak dari Tiongkok," kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Fiqih usai penandatanganan MoU bersama Balitbangtan di kantor Kementan, Rabu, 8 Juli 2020.
Ia berharap tanaman obat yang ada di Indonesia bisa terus dibudidayakan dan risetnya berkembang hingga ke jurnal ilmiah yang diakui internasional. Kemunculan riset potensi tanaman obat bisa saling menguntungkan bagi dunia kesehatan dan kesejahteraan petani.
"Ini menjadi tantangan kita apakah ingin tetap bergantung pada impor ataukah ingin memberi peluang pada obat hasil dari dalam negeri," ungkapnya.
Menurut Daeng, kemandirian bangsa menghasilkan produk kesehatan merupakan capaian yang harus segera dimulai dan dikembangkan. Pihaknya pun berkomitmen untuk mendorong semua inovasi yang berbasis riset karya anak bangsa.
"Saya sudah bicara dengan Pak Mentan untuk mendorong kemandirian bangsa di bidang industri kesehatan dan di bidang pelayanan kesehatan. Mudah-mudahan kemandirian bangsa di bidang obat-obatan di Indonesia dapat dibantu dengan kontribusi sektor pertanian," paparnya.
Selain riset potensi tanaman sebagai obat herbal terstandar, kerja sama IDI dan Balitbangtan juga akan dilakukan dalam percepatan uji klinis inovasi antivirus berbasis eucalyptus. Seluruh tahapan uji eucalyptus itu ditargetkan bisa rampung pada awal 2021.
"Temuan kandungan pada tanaman eucalyptus oleh Balitbangtan Kementan telah menyadarkan kita bahwa kita kurang memanfaatkan produk dalam negeri yang kita olah sendiri," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyambut keinginan PB IDI untuk memanfaatkan potensi tumbuhan obat di Indonesia. Fasilitas laboratorium dan para peneliti di Balitbangtan juga siap untuk kolaborasi penelitian.
"Kita bersyukur IDI berikan support dengan penandatanganan MoU untuk bangsa dan negara dan IDI mau melihat ini sama-sama," ungkapnya.
Terkait produk aromaterapi eucalyptus, Syahrul meyakini bahwa bahan aktif tumbuh tersebut sangat punya manfaat bagi kesehatan. Meski purwarupa hasil penelitian belum bisa disebut produk antivirus, setidaknya hasil sementara bisa membuat saluran pernafasan penggunanya lebih nyaman.
"Semoga tahap ke tahap bisa bersama IDI. Mengurangi rasa sakit saja kan sudah luar biasa dan untuk gosok badan juga luar biasa, apalagi ini ada hasil laboratoriumnya," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News