Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan kondisi iklim yang tak menentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap penyerapan beras pada musim panen kedua 2020, yang diprediksi oleh Bulog akan berlangsung sekitar September-November 2020.
"Jika melihat dari harga beras melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis nasional, harga beras cenderung berada di kisaran Rp11.900 per kilogram atau stabil tinggi sejak April 2020," paparnya, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2020.
Menurut dia untuk menjaga kestabilan harga beras di semua wilayah di Indonesia, pendistribusian beras oleh Bulog harus dikelola dengan baik agar mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Ia berpendapat pendistribusian yang merata bertujuan untuk menghindari terjadinya ketimpangan harga.
"Perhitungan pun harus dilakukan secara berkala, dengan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi. Jangan sampai harga beras nanti terus berada dalam level tinggi atau perlahan naik," tukasnya.
"Karena jika perhitungan menunjukkan perlunya pengadaan beras dalam jumlah yang lebih banyak, mau tidak mau perhitungan untuk impor juga harus dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindari keterlambatan akibat proses panjang impor yang harus dilalui," tambah Galuh.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menegaskan bahwa Indonesia tidak memerlukan opsi impor mengingat stok beras yang diperkirakan mencukupi untuk kebutuhan nasional hingga akhir Desember 2020.
Budi Waseso menyebutkan bahwa stok beras yang dikelola Bulog saat ini mencapai 1,4 juta ton. Volume tersebut dinilai masih terjaga dengan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang harus dikelola Bulog di kisaran 1 juta-1,5 juta ton.
"Sampai hari ini kita masih punya (stok beras) 1,4 juta ton, ini juga masih berlangsung penyerapan. Jadi ini yang meyakinkan saya bahwa beras kita ini cukup untuk kegiatan sampai Desember," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News