Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Pemerintah Siapkan Program Listrik Surya Nusantara

Ekonomi plts kementerian esdm energi terbarukan
Suci Sedya Utami • 20 Mei 2020 07:52
Jakarta: Pemerintah tengah menyiapkan program energi surya nusantara dengan sebagai program unggulan untuk pemulihan pascacovid-19 berakhir dengan menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.
 
Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Haryanto menjelaskan penyediaan PLTS tersebut ditujukan bagi pelanggan listrik PT PLN (Persero) golongan rumah tangga subsidi 450 volt ampere (VA) dan 900 VA.
 
"Ini satu program unggulan untuk recovery pascacovid-19 yang sekarang sedang melanda kita," kata Haryanto dalam webinar green energy, Selasa, 19 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Haryanto mengatakan manfaat dari program ini di antaranya menghemat subsidi listrik dalam jangka panjang, mengurangi biaya listrik pelanggan PLN, menghemat biaya produksi listrik PLN, menciptakan lapangan kerja baru, mendorong tumbuhnya industri surya di dalam negeri termasuk industri jasa penunjangnya, meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan seperti visi pemerintah, serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa pun mendukung program ini sebagai stimulus pemulihan pascapandemi berakhir.
 
Penyediaan PLTS Atap ini bisa menggunakan sumber pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dirinya pun mengusulkan agar pemasangan kapasitas PLTS Atap mencapai satu giga watt (GW) setiap tahunnya dan bisa mulai dilakukan pada tahun depan.
 
Ia bilang dengan target sasaran golongan rumah tangga subsidi 900 VA yang jumlahnya sekitar 660 ribu maka bisa mensubtitusi kebutuhan listrik sekitar satu kilowatt peak (KWp). Dengan begitu akan mengemat beban pemerintah sekitar Rp800 miliar-Rp1,3 triliun per tahunnya tanpa harus merugikan PLN.
 
"Ini menjadi win win solution, karena sebagai program pemulihan ekonomi ini harus bisa mengatasi tingkat pengangguran, mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus target EBT. Jadi ini green recovery," tutur Fabby.
 
Ia bilang untuk mencapai kapasitas satu GW membutuhkan dana awal sekitar Rp15 triliun. Kendati begitu, angka tersebut dianggap cukup rasional jika dikalkulasi dengan pengurangan subsidi yang akan diciptakan.
 
"Yang terpenting uang itu tidak hilang, akan kembali kepada pemerintah. Bisa dinikmati listriknya paling tidak 25 tahun. Berbeda dengan bentuk subsidi lainnya, ketika pemerintah mengeluarkan dana kemudian tidak jadi apa-apa," jelas dia.
 
Lebih lanjut, program Surya Nusantara ini bisa menyerap hingga sekitar 78 ribu tenaga kerja atau paling tidak menyerap 20 ribu-22 ribu tenaga kerja langsung. Sebab, program ini dapat menggerakkan bisnis PLN maupun BUMN dan perusahaan swasta yang bergerak di lini bisnis PLTS.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif