Perkebunan Malaysia telah berjuang untuk memanen buah sawit karena kekurangan tenaga kerja yang diperburuk oleh penutupan perbatasan terkait pandemi. Tenaga kerja asing, sebagian besar dari Indonesia, membentuk sekitar 80 persen tenaga kerja di perkebunan Malaysia.
Kekurangan pekerja telah mendorong produksi kelapa sawit ke posisi terendah multi-tahun karena dunia menghadapi kekurangan minyak nabati yang lebih luas karena perang Rusia-Ukraina dan pembatasan ekspor di produsen utama Indonesia.
Kepala eksekutif MPOA Nageeb Wahab mengatakan bahwa pemerintah telah setuju untuk mengizinkan masuknya 20 ribu pekerja yang aplikasinya disetujui sebelum perbatasan ditutup pada 2020, di samping alokasi 32 ribu pekerja untuk meredakan krisis tenaga kerja yang sedang berlangsung. Beberapa pekerja sudah mulai masuk.
"Kami sudah berada dalam situasi yang mengerikan," kata Nageeb, yang memperkirakan kekurangan tenaga kerja saat ini lebih dari 100 ribu pekerja dikutip dari Channel News Asia, Senin, 30 Mei 2022.
"Saya rasa pada Juli kita bisa melihat sejumlah besar (pekerja) masuk." jelas dia.
Industri ini mempekerjakan sebanyak 337 ribu pekerja migran pada April 2020 tetapi banyak yang kembali ke rumah dan pendatang baru dilarang karena pandemi. Malaysia sejak bulan lalu telah membuka kembali perbatasan dan mengizinkan masuknya pekerja.
Terlepas dari masuknya pekerja, Nageeb mempertahankan perkiraan produksi 2022 di bawah 19 juta ton, dibandingkan dengan 18,1 juta ton tahun lalu.
"Industri masih akan melihat kehilangan produksi tahunan sekitar tiga juta ton, atau 10 persen," tambahnya.
Pada patokan harga minyak sawit mentah Senin, itu berarti kerugian hampir 19 miliar ringgit (USD4,35 miliar).
"Produksi semester I lebih rendah dari semester I tahun lalu karena masalah yang diperparah dengan pekerja," katanya.
Dia menambahkan interval panen di beberapa perkebunan telah diperpanjang hingga 50 hari dibandingkan dengan norma 14 hari sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News