Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Istimewa.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Istimewa.

Antisipasi Krisis Pangan, Pemerintah Penuhi Stok Komoditas 11 Bahan Pokok

Juven Martua Sitompul • 02 Juli 2022 09:51
Jakarta: Pemerintah menggelar rapat koordinasi terbatas lintas kementerian dan lembaga untuk membahas situasi pangan nasional dan antisipasi krisis global di bidang pangan, Kamis, 30 Juni 2022. Menteri Koordinator Bidang (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan Indonesia memiliki ketersediaan pangan yang memadai hingga akhir 2024.
 
Bulog disebut sudah tidak lagi mengimpor beras dalam tiga tahun. Indonesia bahkan berencana untuk mengekspor beras.
 
"Berdasarkan data dan neraca yang dipaparkan pada rapat internal dengan Bapak Presiden (Joko Widodo), stok per Desember 2021 adalah 7 juta ton dan stok Bulog lebih dari 1 juta ton, artinya kalau ekspor 200.000 ribu ton masih aman," kata Airlangga melalui keterangan tertulis, Jakarta, Sabtu, 2 Juli 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, Ekonom Senior di CENTER of Reform on Economics (CORE) Dwi Andreas menilai stok beras 1 juta ton itu tidak memuaskan. Menurut dia, jumlah itu masih jauh dari stok tahun sebelumnya.
 
"Stok di Bulog sampai 13 Juni hanya 1 juta ton. Jauh di bawah ketika Bulog pada tahun-tahun sebelumnya. Karena biasanya, setelah panen raya simpanan diatas 2 juta ton," kata Dwi Andreas.
 
Guru Besar IPB itu menyebut panen raya biasa berlangsung antara April-Mei, di mana stok melimpah namun daya serap ke Bulog rendah. Ini menyebabkan harga gabah di petani anjlok.
 
"Sekarang sih (stok) aman, tetapi lihat saja Agustus, harga bisa melonjak tinggi," kata dia.
 

Baca: G20 Perlu Sepakat Tolak Kebijakan Proteksi Pangan


Untuk menjaga ketahanan pangan, kata dia, pemerintah perlu menjamin ketersediaan 11 komoditas pokok. Adapun 11 komoditas, yaitu beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam, gula pasir, dan terakhir minyak goreng. Namun, ternyata masih ada kendala pendanaan
 
"Untuk memiliki stok yang cukup, itu wajib, kenapa? Kalau ada goncangan pangan, itu lebih tepat bisa diatasi karena bisa digelontorkan pangan yang disimpan untuk masyarakat. Tetapi kenyataan berkata lain, saat ini Badan Pangan Nasional (BPN) belum memiliki dana untuk mengisi stok," kata Dwi Andreas.
 
Dia menyebut BPN memerlukan anggaran untuk membeli komoditas. Termasuk, membangun infrastruktur penyimpanan yang memadai.
 
"Jadi, pemerintah memiliki pekerjaan rumah (PR) yang besar untuk melengkapi stok komoditas pangan nasional di tengah ancaman krisis pangan global," kata dia.
 
(JMS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif