Gula. Foto : Medcom.id.
Gula. Foto : Medcom.id.

Produksi Gula RI dalam 5 Tahun Turun Jadi 2,1 Juta Ton

Ekonomi gula Ekonomi Indonesia Kementerian Perindustrian
Husen Miftahudin • 08 Februari 2021 20:59
Jakarta: Kemenperin Perindustrian (Kemenperin) mencatat produksi gula dalam negeri pada 2015-2020 mengalami penurunan dari 2,5 juta ton menjadi 2,1 juta ton. Padahal pada rentang tahun yang sama telah berdiri sebanyak tujuh pabrik gula berbasis tebu dengan kapasitas terpasang rata-rata sebesar 8.000 ton cane day (TCD) hingga 12 ribu TCD.
 
"Sehingga pada saat ini terdapat 62 pabrik gula di dalam negeri (43 pabrik gula BUMN dan 19 pabrik gula swasta) dengan kapasitas terpasang nasional mencapai 316.950 TCD," ungkap Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim dalam keterangan tertulisnya, Senin, 8 Februari 2021.
 
Menurutnya apabila seluruh pabrik gula dapat berproduksi optimal dan efisien, maka dapat menghasilkan produksi gula sebanyak 3,5 juta ton per tahun. Jika hal ini terealisasi, maka swasembada gula konsumsi sudah tercapai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian, aku Rochim, sampai saat ini pengembangan industri gula nasional masih banyak kendala, antara lain sulitnya investor memperoleh lahan yang clean and clear di luar Jawa. Sementara perkebunan tebu di Pulau Jawa juga semakin berkurang. Selain itu, sulitnya memperoleh sarana produksi (saprodi) tebu dan produktivitas tebu yang relatif rendah.
 
"Sehingga diharapkan pabrik-pabrik gula basis tebu ini fokus untuk meningkatkan produksi gula kristal putih, dengan mengembangkan perkebunan tebunya untuk memenuhi bahan baku bagi perusahaannya," tutur Rochim.
 
Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan melakukan kemitraan, pemberdayaan petani tebu, membantu aspek pembiayaan perkebunan tebu petani, penyediaan saprodi tebu, bimbingan usaha budidaya tebu, dan sebagainya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tebu yang dihasilkan.
 
Sementara itu, pabrik gula rafinasi fokus untuk memenuhi kebutuhan GKR untuk industri makanan dan minuman (mamin). "Pabrik gula rafinasi mengolah raw sugar menjadi gula kristal rafinasi agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku atau bahan penolong bagi industri mamin," kata dia.
 
Di samping itu, dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku gula bagi industri mamin diperlukan pengaturan produksi bagi industri gula yang memproduksi gula kristal rafinasi untuk industri mamin dan untuk mendorong peningkatan produksi gula kristal putih untuk konsumsi.
 
Pengaturan ini diperlukan agar masing-masing industri fokus untuk berproduksi sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Pabrik gula rafinasi untuk memenuhi GKR industri mamin dan pabrik gula basis tebu untuk memenuhi gula kristal putih untuk konsumsi dalam rangka swasembada gula.
 
"Pengaturan produksi pada pabrik gula basis tebu diperlukan mengingat kebutuhan gula konsumsi yang semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Kebutuhan gula konsumsi saat ini sebesar 2,8 juta ton, sementara produksi dalam negeri baru mencapai 2,1 juta ton," pungkas Rochim.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif