Ilustrasi industri rokok - - Foto: MI/ Bagus Suryo
Ilustrasi industri rokok - - Foto: MI/ Bagus Suryo

Buruh Minta Pemerintah Tunda Kenaikan Cukai Rokok

Ekonomi buruh cukai tembakau UU Cipta Kerja
Eko Nordiansyah • 17 Oktober 2020 19:55
Jakarta: Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Jawa Timur (FSP RTMM-SPSI Jatim) meminta perlindungan kepada pemerintah karena tekanan yang dialami akibat rencana kenaikan cukai tembakau, pandemi covid-19, dan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.
 
Permintaan ini disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama dengan rombongan serikat pekerja/serikat buruh lainnya.
 
Juru bicara FSP RTMM-SPSI Jatim Santoso menyampaikan buruh di sektor industri hasil tembakau alias buruh rokok sangat tertekan akibat rencana kebijakan kenaikan tarif cukai rokok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenaikan cukai menjadi musibah karena di masa pandemi covid-19," katanya dilansir di Jakarta, Sabtu, 17 Oktober 2020.

 
Itulah sebabnya, FSP RTMM-SPSI Jatim meminta pemerintah agar tidak menaikkan cukai rokok pada 2021, khususnya segmen sigaret kretek tangan (SKT). Industri ini perlu dilindungi karena termasuk industri padat karya yang bisa membantu pemerintah dalam mengatasi pengangguran di daerah.
 
Sebelumnya, Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) juga mendesak pemerintah untuk melindungi industri SKT dari kenaikan cukai. Ketua Umum AMTI Budidoyo mengatakan pemerintah harus bijaksana dalam menentukan kebijakan cukai tembakau.
 
“Keadilan harus dipertimbangkan terutama sektor padat karya seperti SKT dan petani, biar enggak makin menderita,” ujar Budidoyo dalam webinar di Jakarta.
 
Dia mengatakan bahwa dalam kebijakan pemerintah harus ada keadilan untuk tenaga kerja dan petani yang berjumlah jutaan orang. Itulah sebabnya AMTI mendorong pemerintah untuk memikirkan nasib para petani dan pekerja sektor SKT dalam menentukan kebijakan kenaikan cukai.

 
“Di SKT rata-rata perempuan, kalau mereka kehilangan pekerjaan kasihan, karena mereka juga menjadi tulang punggung. Di sini boleh menaikkan cukai, tapi juga rasional. Tidak seperti kemarin naik 23 persen,” ujarnya.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif