Jamur enoki asal Korsel untuk sementara dilarang beredar. Foto: Dok. US Food & Drug Administration (FDA).
Jamur enoki asal Korsel untuk sementara dilarang beredar. Foto: Dok. US Food & Drug Administration (FDA).

Takut Bakteri, Pelanggan Jamur Enoki Mulai Berguguran

Ekonomi Jamur Enoki
Ilham wibowo • 29 Juni 2020 19:27
Jakarta: Penikmat jamur enoki di Tanah Air kini lebih waspada usai temuan bakteri listeria monocytogenes dari produsen asal Korea Selatan. Bisnis camilan berbahan dasar tumbuhan yang dikenal dengan jamur tauge itu pun langsung ikut terdampak.
 
"Dampak penurunan ke penjualan menu produk jamur enoki cukup besar. Psikologis konsumen terganggu, takut karena ada berita bakteri," kata pemilik usaha OSY Snack Sella Panduarsa Gareta kepada Medcom.id, Senin, 29 Juni 2020.
 
Sella mengatakan bahwa menu andalan yakni jamur enoki crispy yang telah ia rintis sejak awal 2020 juga mesti berhenti berproduksi. Sella pun masih menerima orderan, namun hanya untuk menghabiskan sisa stok jamur enoki yang telah diimpor dari Tiongkok.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami rem promosi karena kami juga terdampak psikologis," ujarnya.
 
Sebelum menutup produksinya, Sella telah mengonfirmasi langsung terkait temuan bakteri ke Kementerian Pertanian. Kemudian ia mendapat penjelasan bahwa usahanya bisa tetap dilanjutkan lantaran jamur tidak akan menganggu kesehatan saat dimasak dengan benar pada suhu 75 derajat celsius.
 
Informasi tersebut juga telah disampaikan kepada para langganan Sella di media sosial bahwa tidak semua jamur enoki mengandung bakteri dan hanya produk dari Green Co Ltd. yang dimusnahkan oleh Kementan. Akan tetapi, penjelasan terkait jamur enoki masih bisa dikonsumsi dengan aman masih kalah dengan isu bakteri yang kadung heboh.
 
Sella sendiri mendapat respons dari masyarakat penikmat jamur enoki yang mengaku tidak mengalami keluhan apapun setelah mengonsumsinya selama bertahun tahun. Jamur enoki yang sudah dibudidayakan di Jepang sejak ratusan tahun yang lalu itu memiliki banyak penikmat karena kandungan protein tinggi sebagai alternatif sumber nutrisi.
 
"Kementan harus memperjelas saja informasi sebenernya apa. Kalau bilang ke UMKM bakteri itu mati dalam suhu 75 derajat celsius tapi mereka memusnahkan dan itu suatu paradoks. Jadi enggak jelas sih dan beritanya heboh minta ampun," ungkapnya.
 
Sella pesimistis jamur enoki yang ia yakini punya prospek bagus untuk bisnis produk camilan bisa kembali ke kondisi normal dalam waktu dekat. Terlebih para importir jamur enoki pun saat ini tengah menunggu situasi kondusif di masyarakat untuk kembali melakukan pemasaran.
 
"Kami sangat merasakan sebagai UMKM yang terdampak berita tidak baik. Sekarang kami menunggu kondisi lebih kondusif dan nanti akan lebih gencar promosi lagi. Antisipasi hal ini, kami mungkin coba cari kreasi camilan yang lain," ujar Sella.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif