| Baca juga: 1 Mei 2026, Harga BBM Tidak Berubah di Hari Buruh |
Lonjakan paling mencolok terjadi pada jenis solar berkualitas tinggi. Harga Primus Diesel Plus dan BP Ultimate Diesel melonjak tajam dari Rp25.560 per liter menjadi Rp30.890 per liter. Kenaikan ini menegaskan tekanan biaya yang semakin berat di sektor energi.
Sementara itu, Pertamina memilih belum bergerak. Hingga 2 Mei 2026, perusahaan pelat merah tersebut masih mempertahankan harga terakhir yang ditetapkan pada 18 April lalu.Namun, tekanan untuk menyesuaikan harga tampaknya sulit dihindari.
Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina hanya tinggal menunggu waktu.
Dengan harga minyak dunia yang terus tinggi dan nilai tukar rupiah yang masih lemah terhadap dolar AS, menjual BBM di bawah harga keekonomian bukanlah opsi yang berkelanjutan.
Menurutnya, mekanisme pasar sudah menjadi acuan utama dalam penetapan harga BBM nonsubsidi. Karena itu, langkah yang diambil oleh SPBU swasta dinilai sebagai sesuatu yang wajar dalam logika bisnis.
“Sebab, dunia usaha, kalau tidak menaikkan harga jual padahal inputnya sudah naik, bisa rugi,” ujarnya dikutip dari Media Indonesia.
Meski demikian, ia mengingatkan penyesuaian harga tetap harus dilakukan secara hati-hati. Harga yang terlalu tinggi berisiko menekan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya bisa berdampak ke perlambatan ekonomi secara luas.
Faktor penentu harga BBM sendiri tidak sederhana. Dari sisi hulu, harga minyak mentah global menjadi variabel utama. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah juga turut memperbesar tekanan biaya.
Secara regulasi, badan usaha memang memiliki ruang untuk menentukan harga. Hal ini merujuk pada Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang memberikan fleksibilitas kepada pelaku usaha dalam menetapkan harga BBM nonsubsidi berdasarkan formula tertentu.
Penyesuaian harga BBM Nonsubsidi
Pandangan serupa datang dari analis kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah. Ia menilai Pertamina pada akhirnya perlu mengikuti penyesuaian yang dilakukan swasta, mengingat kondisi pasar saat ini.Apalagi, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di kisaran USD70 per barel. Kenyataannya, harga global sudah melampaui USD110 per barel, selisih yang terlalu besar untuk diabaikan.
“Dalam APBN 2026, satu barel dihargai USD70. Sekarang harganya sudah di atas USD110 per barel. Jadi sudah tidak mungkin lagi bertahan dengan kondisi sekarang,” kata Trubus.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya komunikasi publik. Kenaikan harga BBM selalu sensitif, sehingga transparansi dan penjelasan yang jelas menjadi kunci agar tidak memicu kepanikan di masyarakat. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah harga BBM nonsubsidi akan naik, melainkan kapan Pertamina akan mengambil langkah yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News