Semakin rendah NPL, semakin baik kualitas kredit yang disalurkan bank. Sebaliknya, NPL yang tinggi menjadi sinyal adanya peningkatan risiko gagal bayar yang dapat mengganggu profitabilitas dan stabilitas perbankan.
Karena itu, keberhasilan transformasi bisnis bank saat ini tidak hanya dilihat dari seberapa besar kredit tumbuh, tetapi juga dari kemampuan menjaga kualitas kredit agar tetap sehat.
Kredit harus tetap tumbuh, NPL tetap terjaga
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani menegaskan penyaluran kredit kepada masyarakat dan dunia usaha harus tetap terjaga meskipun Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.Menurutnya, tantangan utama perbankan saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, efisiensi operasional, dan kualitas aset.
"Walaupun ada kenaikan suku bunga, tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha, terutama UMKM (usah mikro, kecil dan menengah), itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama," kata Rosan dikutip kembali pada Rabu, 24 Juni 2026.
| Baca juga: Bukti Perbankan BUMN Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Laba Himbara Tembus Triliunan |
Berapa NPL Bank Himbara pada kuartal I-2026?
Merangkum berbagai sumber, berikut NPL perbankan pelat merah:1. Bank Mandiri
Bank Mandiri mencatat NPL Gross sebesar 0,98 persen pada kuartal I-2026. Direktur Corporate Banking Bank Mandiri M. Rizaldi mengatakan kualitas aset tetap terjaga berkat disiplin dalam pengelolaan risiko dan pencadangan yang memadai. NPL Mandiri berada jauh di bawah rata-rata industri perbankan yang mencapai sekitar 2,17 persen.
2. BNI
BNI berhasil menurunkan rasio NPL menjadi 1,9 persen hingga Maret 2026. Selain itu, Loan at Risk (LaR) juga membaik ke level 8,6 persen, lebih rendah dibandingkan masa sebelum pandemi. Perbaikan kualitas aset tersebut berjalan seiring pertumbuhan kredit yang mencapai 20,1 persen secara tahunan.
3. BRI
Sebagai bank dengan portofolio UMKM terbesar di Indonesia, BRI mencatat NPL sebesar 3,01 persen pada kuartal I-2026. Angka tersebut membaik dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar 3,07 persen. Sementara rasio Loan at Risk turun menjadi 9,7 persen dari sebelumnya 11,1 persen.
4. BTN
BTN membukukan NPL sekitar 3,1 persen pada kuartal I-2026, membaik dibandingkan sekitar 3,3 persen pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan perseroan menargetkan NPL turun hingga di bawah 2,5 persen pada akhir 2026.
5. BSI
Sebagai bank syariah, BSI menggunakan indikator Non-Performing Financing (NPF) untuk mengukur pembiayaan bermasalah. Hingga April 2026, NPF Gross BSI berada di level 1,80 persen, membaik dari 1,88 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan kualitas pembiayaan ini terjadi di tengah pertumbuhan pembiayaan yang mencapai 15,59 persen secara tahunan menjadi Rp332 triliun.
NPL rendah jadi modal pertumbuhan ekonomi
Rendahnya NPL menunjukkan bank memiliki ruang yang lebih besar untuk menyalurkan kredit baru kepada masyarakat dan dunia usaha.Kondisi tersebut menjadi penting karena fungsi utama perbankan adalah mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan sektor produktif, termasuk UMKM, industri, dan konsumsi rumah tangga.
Karena itu, keberhasilan menjaga NPL tetap rendah bukan hanya menjadi pencapaian perbankan, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda