Merosotnya harga cabai di pasar karena terjadi surplus di tingkat petani (Foto:Dok.MI)
Merosotnya harga cabai di pasar karena terjadi surplus di tingkat petani (Foto:Dok.MI)

Kementan Optimalkan Penyerapan Cabai di Tingkat Petani

M Studio • 31 Agustus 2021 14:50
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) tak tinggal diam menahan laju kemerosotan harga cabai di tingkat petani.
 
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan Bambang Sugiharto mengatakan sebagai salah satu upaya untuk menahan kemerosotan harga cabai, Kementan meminta para pemangku kepentingan baik pengusaha dan pemerintah daerah untuk membantu penyerapan hasil panen petani.
 
“Maka mendukung intervensi pemerintah di hilir juga harus kuat. Kami mohon para petani kami dibantu agar harga tidak anjlok,” ujar Bambang Sugiharto.

Kementan telah menyiapkan mobil berpendingin untuk mengangkut cabai dari lahan secara gratis.
 
“Kami juga telah bersurat pada dinas terkait di 34 provinsi untuk menyerap produk petani. Alokasi anggaran untuk bantuan pasca panen juga telah ada, agar kualitas produksi petani terjaga,” katanya.
 
Sebelumnya, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Tommy Nugraha menyebutkan produksi cabai nasional pada Juli 2021 mencapai 163.293 ton, sedangkan kebutuhan masyarakat sebanyak 158.855, sehingga terjadi kelebihan pasokan sebesar 4.439 ton.
 
Berdasarkan data yang dirilis Kemeterian Perdagangan, harga cabai merah besar per kilogram pada 31 Juli 2021 mencapai Rp 32.100, sedangkan pada 28 Agustus turun 18,07 persen atau Rp 26.300. 
 
Harga cabai merah keriting saat ini bertengger di Rp26 ribu atau merosot 20,49 persen dibandingkan akhir Juli yang masih bercokol di posisi Rp32.700. Sementara itu, cabai rawit merah lebih terpuruk, karena pada 31 Juli mampu mematok harga Rp60.500, kini rontok menjadi Rp 43.200 atau anjlok 28,60 persen.
 
Desakan agar Kementan mengoptimalkan penyerapan cabai hasil produksi petani ini muncul dari Research Center Media Group (RCMG), sebuah lembaga riset di bawah naungan Media Group.
 
“Kondisi pasar pada Agustus ini yang over suplai mengakibatkan harga jual cabai merosot hingga 18 sampai 25 persen dibanding bulan sebelumnya, karena itu perlu dilakukan operasi pasar dengan membeli produk yang tidak terserap,” ujar Assosiate Research RCMG Dr Irwansyah dalam pernyataan tertulis, Selasa, 31 Agustus 2021.
 
Irwansyah menduga merosotnya harga cabai di pasar karena terjadi surplus di tingkat petani. 
 
"Ada suatu anomali dari kondisi masyarakat kita, yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah terkait dengan covid-19. Logikanya, konsumsi cabai meningkat karena banyak dikonsumsi. Namun, mengapa daya serapnya justru turun," tuturnya.
 
Doktor Ilmu Komunikasi dari Unversitas Indonesia itu setuju dengan langkah Kementan untuk menyerap seluruh hasil cabai petani yang tidak terserap di pasar.
 
“Tentu saja, posisi Kementan sebagai fasilitator yang menjembatani antara petani cabai dengan dunia industri baik swasta maupun BUMN,” ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan