Desain pengerjaan stasiun MRT tahap II. Foto: dok MRT.
Desain pengerjaan stasiun MRT tahap II. Foto: dok MRT.

Banyak Tantangan, Fase II MRT Lebih Sulit

Ekonomi mrt Proyek MRT
Syah Sabur • 26 Juli 2020 06:29
Jakarta: Isu tanah lunak dan penurunan tanah hanyalah sebagian dari berbagai masalah yang harus dihadapi dalam dalam pembangunan moda raya terpadu (MRT) Jakarta fase II yang masih terus berlangsung. Kontur tanah yang menurun dan lunak itu terdapat di sepanjang kawasan Bundaran HI sampai Kota.
 
"Karena itu, bisa dibayangkan fase II ini lebih sulit dibandingkan pembangunan MRT fase I," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar dalam Forum Jurnalis MRT Juli, di Jakarta, dikutip Sabtu, 25 Juli 2020.
 
Belum lagi di tanah di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat juga cepat menurun atau disebut land subsidence layer. Menurut dia, memang ada tanah stabil alias non-subsidence layer, tapi berada di titik yang dalam. Alhasil, terdapat kondisi tanah lunak atau soft soil condition sekaligus terjadi penurunan tanah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk itu memang kami harus melakukan investasi serius penanganan soal tanah lunak dan penurunan tanah di Jakarta yang memang sudah serius terjadi di kawasan utara Jakarta."
 
Atas dasar itulah, pekerjaan dilakukan sangat hati-hati, termasuk dengan menggandeng konsultan dan ahli geologi untuk menilai tingkat kelunakan tanah. Isu tanah lunak atau penurunan tanah itu harus ditangani secara serius karena pihak MRT ingin masa umur dan konstruksi yang dibangun bertahan di masa yang panjang.
 
Awal 2019, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan rata-rata penurunan muka tanah DKI Jakarta sekitar 7,5 cm per tahun. Dia menyebut, ada wilayah yang penurunan muka tanahnya mencapai 18 cm per tahun.
 
William juga menyebut banyaknya cagar budaya di sepanjang jalur fase II juga menjadi tantangan tersendiri. Pembangunan MRT fase II ini dinilai lebih rumit karena sebelum pembangunan dimulai harus betul-betul memikirkan nilai dari cagar budaya tersebut, yang ada di seluruh fase kedua ini.
 
"Its different. Tingkat kesulitannya luar biasa, karena tadi ada isu penurunan tanah, isu soil, ada isu cagar budaya, isu lingkungan," ungkap William.
 
Untuk itu, PT MRT Jakarta harus melakukan pengecekan lokasi mana saja yang termasuk cagar budaya agar tidak menimbulkan polemik dan merusak bagunan sejarah.
 
"Yang akan kita serius tangani cagar budaya di kawasan Monas. Dan ini salah satu alasan kenapa nanti kita akan lakukan pengecekan terhadap materi-materi cagar budaya yang sudah teridentifikasi jelas," tuturnya.
 
William melanjutkan MRT fase 2A rute Bundaran HI-Kota sepanjang 5,8 kilometer (km) akan memiliki tujuh stasiun bawah tanah, yakni Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Kedalaman stasiun mulai dari 17 meter hingga 36 meter. Fase 2A ini telah dibangun sejak Maret 2020 lalu dimulai dengan paket CP201, yakni konstruksi Stasiun Sarinah, Stasiun Monas, dan pekerjaan terowongan.
 
Karena adanya cagar budaya di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakata Pusat, PT MRT Jakarta nantinya bakal membangun Stasiun Monas yang salah satu pintu masuknya berada di dalam Monas sisi barat.
 
Pengerjaan proyek sepenuhnya dilakukan di bawah tanah agar tidak mengganggu lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Barat. Di area pengerjaan ini, menurut dia, pernah dimanfaatkan sebagai lokasi pasar malam bernama Pasar Gambir pada 1930-an. Jaraknya sekitar 3-4 meter di bawah tanah.
 
Kemudian PT MRT Jakarta juga perlu memastikan lingkungan sekitar Monas tidak terdampak akibat pembangunan. Salah satu nilai lingkungan yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengatur pemindahan pohon. MRT Fase 2 juga terintegrasi dengan proyek revitalisasi Monas. William berujar, aspek integrasi itu tampak dari desain Stasiun Monas yang telah disesuaikan dengan revitalisasi Monas.
 
Pembahasan desain, lanjut dia, didiskusikan sejak tahap perencanaan dan sudah disetujui Komite Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka yang diketuai Menteri Sekretaris Negara. "Selain Monas proyeknya mahal dan besar, proyeknya memiliki nilai yang amat bersejarah," jelas dia.
 
Dari Stasiun Monas, rute kereta Ratangga Fase 2 bakal maju menuju Stasiun Kota hingga Ancol Barat. William memaparkan penurunan tanah merupakan isu lama di kawasan utara Jakarta. Faktor lain yang menjadikan pengerjaan MRT Fase 2 lebih kompleks, yaitu pembangunan Stasiun Thamrin. Menurut William, Stasiun Thamrin akan menjadi stasiun besar di Fase 2 ini. Sebab, ke depannya, jalur Utara-Selatan (rute Lebak Bulus-Ancol Barat) akan terkoneksi jalur Barat-Timur (rute Cikarang-Balaraja) di Stasiun Thamrin.
 
Stasiun Thamrin akan membentang sepanjang 455 meter dengan total 10 pintu masuk. Di dalam bawah tanah area stasiun juga dilengkapi area komersial. Selanjutnya, kedalaman fondasi stasiun mencapai 30 meter. MRT Fase 2 terdiri dari 10 stasiun. Untuk Fase 2A sepanjang enam kilometer akan melintasi tujuh stasiun dengan rute Bundaran Hotel Indonesia-Kota. Seluruh stasiun dibangun di bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.
 
Selanjutnya, Fase 2B rute Kota-Ancol melintang sepanjang 5,8 km melewati Stasiun Mangga Dua, Stasiun Ancol, dan Stasiun Ancol Barat. Pembangunan ditargetkan rampung pada triwulan I-2025. Lalu rencana operasional pada triwulan II di tahun yang sama.
 
"Skema pembiayaan sendiri dibagi dalam dua bagian, yakni bagian pertama sudah terealisasi sebesar Rp9 triliun, itu sudah ditandatangani antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang. Kalau bagian kedua, ini akan dialokasikan kalau anggaran sudah digunakan," jelas William.
 
Pembangunan MRT fase 2A dengan lintasan sepanjang 5,8 km memiliki tipe konstruksi bawah tanah dari stasiun Bunderan Hotel Indonesia, stasiun Thamrin, stasiun Monas, stasiun Harmoni, stasiun Sawah Besar, stasiun Mangga Besar, stasiun Glodok, dan stasiun Kota. Sedangkan MRT fase 2B sepanjang 6 km memiliki tipe konstruksi layang melalui stasiun Kota, stasiun Mangga Dua, stasiun Ancol dan stasiun Depo.
 
"Pembangunan tahap dua juga dibagi menjadi tiga tahap yakni, tahap satu dilaksanakan pada akhir Juli 2020 hingga Maret 2023. Tahap dua April-Desember 2023, tahap tiga Januari 2024 hingga Maret 2025," tambah Dirut MRT.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif