SKK Migas. Foto: Dok.MI
SKK Migas. Foto: Dok.MI

Covid-19 Bukan Halangan Percepat Proyek Hulu Migas

Ekonomi skk migas Proyek Hulu Migas
Suci Sedya Utami • 03 Juni 2020 15:51
Jakarta: Munculnya pandemi covid-19 di Tanah Air tidak menjadi halangan untuk mempercepat pelaksanaan proyek-proyek hulu minyak dan gas bumi (migas). Pada 2020, ditargetkan ada sebelas proyek hulu migas yang akan onstream atau beroperasi.
 
Koordinasi antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) selama periode work from home pun membuahkan hasil positif. Sejumlah proyek dapat direalisasikan lebih cepat dari jadwal kendati melalui berbagai keterbatasan.
 
Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno melaporkan ada satu proyek di tahun ini yang dapat direalisasikan pada Juli 2020, yakni proyek Meliwis. Proyek tersebut digarap oleh Ophir Indonesia (Madura Offshore) yang akan menghasilkan produksi gas sebesar 20 juta kaki kubik (mmscfd).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Keberhasilan mempercepat realisasi proyek hulu migas di tengah pembatasan mobilitas dalam rangka penanggulangan covid-19 menunjukkan tekad dan semangat insan hulu migas untuk dapat melaksanakan program yang telah disepakati dalam Work, Program & Budget 2020 secara optimal dan efisien," kata Julius dalam keterangan resmi, Rabu, 3 Juni 2020.
 
Sementara itu, pelaksanaan proyek yang dapat dipercepat di antaranya pembangunan proyek Bambu Besar yang dilaksanakan oleh PT Pertamina EP, reaktivasi Platform PHE-12 oleh PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), dan pembangunan fasilitas kompresor gas Sembakung oleh PT Pertamina EP.
 
Pelaksanaan proyek-proyek tersebut seharusnya diselesaikan pada 2021 tetapi mampu diselesaikan pada 2020.
 
Proyek Bambu Besar akan menghasilkan gas (non asso) sebanyak tiga mmscfd. Saat ini proyek masih dalam proses engineering-procurement-construction (EPC) dan akan beroperasi pada kuartal ketiga 2020.
 
Sementara reaktivasi Platform-12 adalah kegiatan untuk memperbaiki platform yang sempat miring pada 2017, untuk menghasilkan produksi minyak sebesar 3.000 barel per hari (bph).
 
Diharapkan proyek dapat direalisasi pada akhir 2020. Demikian juga dengan proyek kompresor Sembakung yang akan diselesaikan pada akhir 2020 dan menghasilkan gas sebesar dua mmscfd.
 
Sementara itu Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyambut gembira dengan terobosan-tebobosan yang dilakukan jajarannya bersama KKKS sehingga menghasilkan percepatan-percepatan proyek di lapangan.
 
Ia bilang, SKK Migas bersama KKKS terus melakukan koordinasi secara intensif untuk memastikan proyek hulu migas dapat berjalan dengan baik sesuai jadwal.
 
"Di tengah wabah covid-19 dan SKK Migas mampu mempercepat pelaksanaan penyelesaian tiga proyek menunjukkan peran SKK Migas semakin efektif dan mampu menjalankan fungsi dengan baik. Hal ini merupakan bagian dari proses keberhasilan transformasi SKK Migas," tutur Dwi.
 
Jika proyek hulu migas yang direncanakan dapat berjalan dengan baik, maka dampaknya adalah akan ada peningkatan produksi dan lifting migas. Sehingga efek lanjutannya yakni mampu menggerakkan perekonomian daerah dan menciptakan lapangan kerja, khususnya masyarakat sekitar proyek di tengah wabah covid-19
 
Dwi menambahkan, wabah covid-19 dan masih rendahnya harga minyak menjadi ujian nyata untuk merealisasikan visi bersama Indonesia meraih kembali second golden era dengan mampu memproduksi minyak satu juta bph di 2030.
 
Namun, salah satu kunci penting adalah bagaimana menjaga proyek dapat berjalan dengan baik sesuai jadwal. Keberhasilan mempercepat proyek tidak lepas dari keberhasilan implementasi dua pilar transformasi SKK Migas yaitu Integrated Operation Center (IOC) dan One Door Service Policy (ODSP).
 

(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif