Ilustrasi penambang batu bara yang berasal dari pekerja lokal - - Foto: AFP/Uz Zaman.
Ilustrasi penambang batu bara yang berasal dari pekerja lokal - - Foto: AFP/Uz Zaman.

Siap-siap, Proyek Gasifikasi Batu Bara Muara Enim Butuh 13 Ribu Pekerja

Ekonomi Tenaga Kerja lapangan pekerjaan batu bara Investasi Asing Bahlil Lahadalia Kementerian Investasi Pengusaha tambang batu bara gasifikasi batu bara
Eko Nordiansyah • 24 Januari 2022 13:11
Jakarta: Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyebut proyek gasifikasi batu bara yang digarap oleh perusahaan asal Amerika Serikat Air Products and Chemicals, Inc (APCI) di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan akan membutuhkan 13 ribu pekerja selama masa konstruksi.
 
Dalam proyek ini, Air Products akan bekerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero). Total keseluruhan nilai investasi megaproyek tersebut mencapai USD15 miliar untuk bidang industri gasifikasi batu bara dan turunannya.
 
"Pekerjaan ini akan menghasilkan lapangan kerja 12-13 ribu dari konstruksi yang dilakukan oleh Air Products. Kemudian 11 ribu-12 ribu dilakukan dihilir oleh Pertamina," kata dia dalam video conference groundbreaking, Senin, 24 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, setelah proyek ini rampung nantinya akan menyerap sebanyak tiga ribu pekerja langsung, belum ditambah pekerja tidak langsung dari kontraktor, subkontraktor, sehingga multiplier efeknya bisa mencapai empat kali lipat. Bahlil juga memastikan mayoritas pekerja diserap dari tenaga kerja lokal.
 
"Lapangan kerja semuanya dari Indonesia, Air Products sudah saya panggil, tenaga kerja saya bilang 95 persen dari Indonesia yang lima persen itu hanya masa konstruksi, masa produksinya itu akan dilibatkan PTBA dan Pertamina," ungkap dia.
 
Tak hanya membuka lapangan kerja, ia menyebut proyek ini juga akan mendukung pemerintah mengurangi impor elpiji dari luar negeri. Bahkan, Bahlil memperkirakan efisiensi dari impor ini bisa mengurangi beban anggaran yang selama ini digunakan untuk subsidi impor elpiji.
 
"Jadi impor kita gas elpiji enam sampai tujuh juta ton, satu tahun subsidi kita cukup besar. Dalam perhitungan kami, setiap satu juta ton hilirisasi kita bisa melakukan efisiensi kurang lebih sekitar Rp6 triliun-Rp7 triliun itu efisiensi dari subsidi. Jadi tidak ada alasan lagi kita tidak mendukung hilirisasi untuk melahirkan substitusi impor," pungkasnya.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif