Ilustrasi Gen Z. Foto: Forbes
Ilustrasi Gen Z. Foto: Forbes

Gen Z Effect: Merek Mewah Mulai Jual Citra Pintar, Bukan Sekadar Gaya

Annisa ayu artanti • 11 September 2026 12:07
Ringkasnya gini..
  • Gen Z mulai meninggalkan pesona influencer biasa dan lebih tertarik pada figur yang punya keahlian serta wawasan.
  • Merek mewah seperti Prada, Dior, J Crew, Valentino, dan Coach mulai memanfaatkan otoritas intelektual untuk memperkuat citra mereka.
  • Di tengah maraknya AI dan konten yang semakin homogen, influencer intelektual menawarkan sesuatu yang sulit ditiru, yakni perspektif dan keahlian manusia.
Jakarta: Influencer identik dengan kehidupan glamor, rekomendasi produk, dan angka followers yang fantastis. Namun sekarang, ada tanda-tanda tersebut mulai terasa basi, khususnya bagi Gen Z. Karena kini Gen Z mencari figur yang bisa menawarkan sesuatu yang lebih berbobot, dibandingkan yang hanya mengejar kenaikan followers.

Dilansir dari laman CNA LUXURY pada Jumat, 11 September 2026, tren tersebut terlihat dari semakin banyaknya merek mewah yang menggandeng figur dari dunia intelektual dan literasi. Contohnya, Prada yang memanfaatkan kecerdasan untuk memperkuat daya tariknya. 

Selain itu, J Crew menggandeng penulis sekaligus pengarang The New Yorker, Patrick Radden Keefe, sedangkan Dior memilih penulis Nigeria Chimamanda Ngozi Adichie sebagai bagian dari pendekatan yang menghubungkan fashion dengan dunia intelektual.

Merek lain bahkan mengambil langkah yang lebih literal untuk membangun citra sebagai brand yang dekat dengan buku. Contohnya, Valentino yang menjadi sponsor Upacara Penghargaan Booker Internasional 2024, dan Coach yang berkolaborasi dengan Penguin Random House untuk membuat gantungan tas berbentuk buku mini.

Gen Z Mulai Mencari Sosok yang Punya Otoritas

Fenomena intelektual ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi perkembangannya semakin terasa ketika Gen Z tumbuh lebih dewasa dan semakin kritis terhadap budaya influencer. Di tengah kehadiran AI yang menghasilkan konten semakin seragam, manusia dengan pengalaman, keahlian, dan sudut pandang personal justru punya daya tarik tersendiri.

The Future Laboratory bahkan telah membahas kemunculan “expert influencer” tiga tahun lalu. Sementara jauh sebelum tren tersebut ramai, figur seperti Joan Didion sudah menjadi contoh bagaimana otoritas intelektual dapat bertemu dengan dunia fashion.

Kini, faktor pendorongnya semakin kuat karena Gen Z tumbuh lebih dewasa dan dianggap makin sinis terhadap influencer konvensional yang sudah menjadi bagian dari budaya media sosial selama bertahun-tahun. TikTok dan Instagram pun tidak lagi cuma dipakai untuk hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai mesin pencari dan tempat mencari informasi.

BookTok hingga Substack Buktikan Pengetahuan Bisa Dijual

Kembalinya nilai keahlian juga terlihat dari berkembangnya berbagai platform dan komunitas berbasis pengetahuan. Acara seperti Pints of Knowledge mampu menarik banyak pengunjung melalui pembicara ahli, sementara BookTok dan Bookstagram di TikTok serta Instagram ikut mendorong penjualan genre buku yang sebelumnya tergolong niche.

Fenomena serupa muncul di Substack yang lebih serius, terutama dalam bidang kesehatan dan kebugaran, hingga melahirkan sejumlah figur dengan basis pengikut yang loyal. Mantan biksu Jay Shetty bahkan dikenal sebagai “penyebar kebijaksanaan secara viral”, sebelum kemudian membangun agensi talenta dan mereknya sendiri.

Meski begitu, influencer intelektual masih menguasai porsi pasar yang sangat kecil jika dibandingkan dengan influencer tradisional. Pustakawan internet Jack Edwards, misalnya, memiliki sekitar 1,3 juta pengikut, angka yang masih jauh di bawah 344 juta pengikut Kim Kardashian. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan