Berdasarkan Allianz Global Insurance Report 2026, premi industri asuransi global diperkirakan tumbuh 7,1 persen menjadi EUR6,9 triliun sepanjang 2025, dengan tambahan premi sebesar EUR 456 miliar. Pertumbuhan tersebut memang lebih rendah dibanding 2024, tetapi masih berada di atas rata-rata pertumbuhan dalam satu dekade terakhir.
Asuransi jiwa tetap menjadi segmen terbesar (EUR2.861 miliar), diikuti oleh asuransi umum sebesar EUR2.320 miliar, dan asuransi kesehatan sebesar EUR .688 miliar.
Pasar asuransi kerugian menuju normalisasi setelah periode kenaikan harga. Premi global meningkat +3,8 persen pada 2025, jauh di bawah pertumbuhan +8,5 persen pada tahun
sebelumnya dan di bawah rata-rata CAGR sepuluh tahun sebesar +5,6 persen, seiring dengan semakin matangnya siklus harga dan mulai stabilnya inflasi klaim.
Asia jadi motor pertumbuhan
Di kawasan Asia, laporan Allianz Research mencatat kawasan ini menjadi mesin pertumbuhan industri, terutama didorong oleh meningkatnya kebutuhan perlindungan, tingginya tingkat tabungan, serta perubahan demografi.Premi asuransi jiwa di kawasan Asia meningkat +9,9 persen pada 2025, dengan Tiongkok mencatat pertumbuhan sebesar +11,4 persen.
Asia tetap menjadi pasar asuransi jiwa terbesar di dunia, didukung oleh faktor demografi seperti penuaan populasi, tingkat tabungan yang tinggi, serta sistem pensiun publik yang relatif belum sepenuhnya
komprehensif.
Asuransi kesehatan semakin menjadi pertumbuhan struktural yang paling menonjol di industri asuransi. Secara global, premi asuransi kesehatan meningkat +12,3 persen pada 2025, merupakan pertumbuhan terkuat sejak 2014.
| Baca juga: Inflasi Medis Melonjak, Begini Cara Melindungi Keuangan dari Risiko Penyakit |
Indonesia masih punya ruang tumbuh
Indonesia mencatat pertumbuhan pasar asuransi sebesar 11 persen dengan total premi mencapai EUR15,8 miliar. Allianz menilai angka tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan jiwa, kesehatan, maupun aset.“Pertumbuhan industri asuransi Indonesia yang terus berlanjut mencerminkan meningkatnya
kebutuhan masyarakat akan perlindungan, baik untuk jiwa, kesehatan, maupun aset," kata Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Alexander Grenz dalam keterangan tertulis, Sabtu, 4 Juli 2026.
Dengan tingkat penetrasi asuransi yang masih relatif rendah, menurutnya Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan untuk memperluas akses proteksi bagi lebih banyak masyarakat.
"Seiring dengan terus meningkatnya biaya layanan kesehatan, menjaga premi asuransi kesehatan agar tetap berkelanjutan dan terjangkau menjadi semakin penting untuk memastikan akses jangka panjang terhadap perlindungan yang berkualitas," ucapnya.
Prospek industri asuransi tetap bertumbuh
Secara keseluruhan, pasar asuransi global diperkirakan tumbuh sebesar +5,3 persen per tahun dalam sepuluh tahun ke depan, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi global.Untuk Indonesia, tingkat penetrasi asuransi yang masih relatif rendah, yaitu sebesar 1,3 persen terhadap PDB, menunjukkan adanya kebutuhan yang belum terpenuhi. Oleh karena itu, pertumbuhan tahunan secara keseluruhan diperkirakan mencapai +8,2 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB nominal sebesar 7,6 persen.
Untuk asuransi kerugian, pertumbuhan global diperkirakan mencapai +4,7 persen hingga 2036 (pertumbuhan asuransi kerugian di Indonesia bertumbuh sebesar 7,3 persen).
Segmen ini diperkirakan akan mencatatkan tingkat pertumbuhan yang solid di hampir seluruh pasar, seiring meningkatnya kebutuhan akan perlindungan secara global.
Allianz Research juga tetap optimistis terhadap prospek asuransi jiwa, yang diperkirakantumbuh +4,9 persen per tahun, didukung oleh tingkat suku bunga yang lebih tinggi (Indonesia 7,9 persen).
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda