Ilustrasi menara telekomunikasi. Foto:  Antara/Joko Sulistyo.
Ilustrasi menara telekomunikasi. Foto: Antara/Joko Sulistyo.

Merger Perusahaan Telekomunikasi, Penggabungan Frekuensi di Tangan Kominfo

Medcom • 12 Oktober 2021 18:00
Jakarta: Merger perusahaan telekomunikasi disambut positif. Namun, penggabungan frekuensi disebut harus menunggu hasil evaluasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kominfo.
 
Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Ian Josef Matheus Edward menilai positif merger dan akusisi yang direncanakan operator selular di Indonesia.
 
"Merger akan memperkuat permodalan, frekuensi yang dimiliki dan backbone. Sebab untuk menjamin terselenggaranya 5G tak hanya frekuensi saja. Operator harus didukung permodalan yang kuat dan backbone yang besar. Merger dapat menjadi sinergi yang baik," kata Ian, Selasa, 12 Oktober 2021.
 
Agar industri telekomunikasi sehat, kata Ian, idealnya jumlah operator selular di Indonesia minimal 4. Jika kurang, Ian khawatir terjadi oligopoli antar penyelenggara selular. Agar merger dapat memberikan manfaat bagi Negara, masyarakat dan industri, menurut Ian, pertimbangan KPPU sangat penting dalam finalisasi konsolidasi operator selular.
 
"KPPU sebagai lembaga yang mengawasi persaingan usaha dapat melarang merger operator selular. Peran regulator dalam menjamin iklim persaingan usaha ini sangat vital. Sehingga semua keputusan merger harus diserahkan ke KPPU," kata Ian.
 
Ian mengingatkan, perusahaan hasil merger tak serta-merta dapat langsung menggunakan frekuensi untuk layanan 5G. Untuk dapat menggabungkan frekuensi Indosat dan H3I (Hutchison 3 Indonesia (H3I), menurut Ian, harus melalui mekanisme evaluasi mendalam baik dari Kominfo maupun KPPU. Tujuannya, agar merger Indosat dan H3I membawa manfaat bagi negara dan masyarakat dan tidak menggangu iklim persaingan usaha yang sehat.
 
Saat ini UU Cipta Kerja sudah memberikan kepastian diperbolehkannya merger akusisi operator selular. Namun untuk penggabungan frekuensi menurut Ian harus mendapatkan persetujuan dari Menkominfo dan KPPU.
 
Bahkan di PM 7 tahun 2021 Kominfo diberikan kewenangan menarik sebagian frekuensi jika frekuensi yang dipegang operator selular hasil merger tidak dipergunakan secara optimal atau berpotensi mengganggu iklim persaingan usaha yang sehat
 
Ketika merger Indosat H3I terjadi, penguasaan frekuensi mereka di 1800MHz menjadi 2x30MHz dan untuk 2100 MHz menjadi 2x30Mhz. Sementara operator lain seperti XL dan Telkomsel masing-masing hanya menguasai sebesar 2x22,5 MHz di 1800MHz. Sedangkan di frekuensi 2100MHz Telkomsel dan XL masing-masing hanya menguasai 2x15MHz.
 
"Nanti tinggal urusan Pemerintah akan mengizinkan Indosat H3I menggunakan berapa besar frekuensi. Yang tidak boleh adalah satu perusahaan mendominasi penguasaan frekuensi. Selain itu merger mendapat persetujuan KPPU. Evaluasi mendalam mengenai frekuensi yang ideal bagi Indosat H3I tetap harus dilakukan oleh Kominfo dan KPPU. Jadi tidak bisa langsung otomatis gabung frekuensi mereka,"jelas Ian.
 
(FZN)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif