Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani

Kenaikan Tarif Cukai Rokok Dikhawatirkan Picu PHK di Kudus

Ekonomi industri rokok bea dan cukai serikat pekerja PHK
Husen Miftahudin • 16 September 2021 14:19
Jakarta: Serikat Buruh Muslim Indonesia (Saburmusi) Kudus menilai rencana pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) dapat memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran buruh yang bekerja di industri rokok.
 
Sekjen Saburmusi Kudus Badruddin mengatakan terdapat sekitar 100 ribu tenaga kerja di Kudus, sebanyak 80 persen di antaranya merupakan buruh pabrik rokok. Jumlah ini menurun drastis karena pabrikan rokok banyak yang bangkrut.
 
Sebelum 2007 ada sebanyak 200 industri yang beroperasi di Kudus. Namun saat ini tersisa 89 industri Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenaikan tarif CHT  akan menekan pabrikan, sebab dari sebatang rokok, 70 persen masuk ke penerimaan negara melalui pungutan cukai. Bahkan, kalau dihitung, persentase untuk industri hanya 30 persen. Padahal di komponen industri ada bahan baku, karyawan, dan lain sebagainya," ujar Badruddin dalam siaran persnya, Kamis, 16 September 2021.
 
Badruddin menambahkan, di masa krisis pandemi covid-19 ini membuat penjualan industri melemah dan tidak memenuhi target. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan efek melemahnya daya beli konsumen.
 
"Kondisi ini membuat buruh di Kudus terancam dirumahkan. Kami belum bangkit dari covid-19, kini semakin dibebani kenaikan tarif CHT dari pemerintah. Jangan sampai sektor SKT yang padat karya dan pengrajinnya bisa punah. Pemerintah harus mengakomodir kebijakan yang tidak menekan industri sehingga buruh tidak ikut tertekan," tegas dia.
 
Sementara itu, pengamat ekonomi Hasan Hidayat berpendapat bahwa pemerintah dalam menargetkan pendapatan di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) bersumber dari sektor cukai rokok yang akan ditetapkan Oktober 2021.
 
Jika pemerintah memaksa untuk menaikkan tarif CHT, hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan petani tembakau dan cengkih serta para pekerja industri rokok.
 
"Pemerintah seharusnya meninjau langsung bagaimana kondisi petani dan pekerja hari ini. Karena ketika cukai naik, maka bahan baku tidak terserap oleh pabrikan. Pekerja bisa dirumahkan dan bahkan tidak diberi pesangon karena modalnya sudah habis untuk bertahan di masa pandemi," pungkas Hasan.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif