Petani garam di NTT. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Petani garam di NTT. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Mendag Dorong Peningkatan Produktivitas Garam Nasional

Ekonomi garam
Ilham wibowo • 25 Juli 2020 11:23
Kupang: Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto terus mendorong peningkatan produktivitas garam dalam negeri, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kebutuhan konsumsi dan industri dalam negeri terhadap garam perlu terpenuhi secara mandiri.
 
Komitmen tersebut diungkapkan Agus saat meninjau persiapan panen garam tambak garam PT Timor Livestock di Nunkurus, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 24 Juli 2020.  Turut mendampingi Mendag yaitu Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.
 
Mendag mengapresiasi produktivitas lahan garam yang relatif cukup baik dibandingkan dengan rata-rata produksi garam dalam negeri. Garam merupakan salah satu komoditas yang dibutuhkan masyarakat di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga untuk konsumsi, hingga industri sebagai bahan baku, antara lain dalam produksi pipa PVC, sabun, kosmetik, tekstil, manufaktur, dan hasil industri lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini garam nasional masih menghadapi beragam tantangan, baik dari sisi keterbatasan produksi maupun kualitas hasil akhir yang relatif rendah. Namun saya melihat di sini potensi peningkatan produksi garam dengan kualitas di atas rata-rata. Jika kualitas ini dipertahankan, maka produksi garam NTT dapat mendorong penurunan impor garam untuk kebutuhan industri, maupun untuk diekspor," ujar Agus melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, 25 Juli 2020.
 
Produktivitas rata-rata lahan garam di Nunkurus adalah 100 ton per hektare (ha) untuk setiap siklus panen atau sekitar 40-45 hari, lebih tinggi dari produktivitas rata-rata lahan garam lainnya yang berkisar 60-70 ton per ha. Kualitas garam yang dihasilkan juga termasuk cukup baik dengan NaCl minimal 97 persen. Kualitas garam dalam negeri rata-rata memiliki kandungan NaCl di bawah 95 persen sehingga menyebabkan garam dalam negeri tidak dapat diserap industri pengguna garam.
 
Harga jual garam dari petambak di Nunkurus juga berkisar antaran Rp600-Rp1.000 per kg, lebih tinggi dari rata-rata harga garam di tingkat petambak yang di bawah Rp500 per kg. Hasil keuntungan produksi kemudian dinikmati pihak masyarakat pemilik lahan, gereja, dan pemerintah daerah dengan mekanisme bagi hasil. Masyarakat pemilik lahan juga mendapat 10 persen dari bagi hasil tersebut.
 
"Kemendag terus mendorong para petani garam agar memanfaatkan Sistem Resi Gudang (SRG), termasuk para petani di Nunkurus, NTT, karena nantinya dibentuk SRG di sini. Melalui SRG, diharapkan harga garam akan relatif stabil karena petambak bisa menyimpan garam di gudang dan menjualnya pada saat yang tepat, serta memperoleh dukungan pendanaan berupa pinjaman," papar Agus.
 
Lebih lanjut Mendag Agus mengungkapkan salah satu tantangan kondisi pergaraman dalam negeri yang paling krusial ialah tingkat produksi yang belum mencukupi kebutuhan nasional.
 
Kebutuhan garam nasional pada 2020 diperkirakan sebesar 4,4 juta ton, terdiri atas kebutuhan industri sebesar 3,74 juta ton, rumah tangga 321 ribu ton, dan lainnya sebesar 398 ribu ton. Sedangkan produksi garam 2020 diperkirakan sebesar 2,5 juta ton sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan garam di dalam negeri.
 
"Rendahnya produktivitas garam di dalam negeri disebabkan produksi garam yang rentan terganggu cuaca, lahan pergaraman yang tidak luas dan tidak terintegrasi, serta sistem pemanenan garam yang sederhana. Selain membuat jumlah produksi yang rendah, hal ini juga berdampak pada kualitas garam yang tidak seragam," paparnya.
 
Dengan produksi yang rendah, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan garam nasional, terutama kebutuhan garam industri yang masih dipenuhi dari impor. Lahan garam di Indonesia juga bukan merupakan hamparan, melainkan petakan-petakan yang diusahakan secara tradisional.
 
Kemendag bersama unsur pemerintah lainnya, antara lain Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Perindustrian juga akan terus bergerak melakukan berbagai upaya penanganan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing dalam mendorong produktivitas garam nasional.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif