Ilustrasi penggilingan padi - - Foto: Medcom/ Kuntoro Tayubi
Ilustrasi penggilingan padi - - Foto: Medcom/ Kuntoro Tayubi

Kementan Minta Penggilingan Padi Hasilkan Beras Premium

Ilham wibowo • 22 Juli 2020 10:36
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) meminta pengguna penggilingan padi melakukan revitalisasi rice milling unit (RMU) agar menghasilkan beras premium. Dengan begitu, harga jual gabah petani akan terangkat.

Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Prayudi Syamsuri mengatakan tengah memperbaiki kinerja penggilingan padi yang ada di laboratorium mutu beras dan pascapanen serealia lainnya. Revitalisasi RMU tersebut kemudian dikolaborasikan bersama PT. Spinindo Sarana Pangan untuk produksi beras berkualitas.
 
"Permasalahan yang harus dijawab yaitu masih tingginya losses di pascapanen. Semakin banyak beras patah, semakin banyak rendemen yang terbuang dan penggilingan padi harus dioptimalkan agar losses bisa kita kurangi,” kata Prayudi melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 22 Juli 2020.
 
Prayudi memaparkan Kementan berupaya menekan keberagaman dan meningkatkan mutu fisik beras dengan cara yang relatif efektif dan efisien. Revitalisasi RMU terus meliputi perbaikan konfigurasi layout dan teknologi dan sistem penyosohan model abrasive-mist friction untuk menghasilkan mutu fisik beras berkualitas dengan rendemen yang optimal.
 
"Fasilitas laboratorium mutu beras tersebut juga merupakan pusat pelatihan operator penggilingan padi di Indonesia. Melalui kerja sama dengan dinas-dinas, setiap tahun dilakukan bimbingan teknis untuk mencetak operator-operator penggilingan padi," ujarnya.

Peneliti Senior BB Pascapanen, Ridwan Rachmat menuturkan, bahwa teknologi pengolahan gabah di Indonesia masih variatif mulai yang sederhana hingga serba otomatis. Rata-rata mesin yang digunakan umurnya lebih dari 10 tahun.
 
Selain itu, kaidah pengolahan beras yang standar belum sepenuhnya diterapkan di tiap penggilingan padi yang mengandalkan mesin one pass. Konfigurasi mesin yang kurang baik menyebabkan rendemen masih rendah yaitu rata-rata sekitar 62,74 persen yang seharusnya dapat dicapai di atas 65 persen. Kualitas beras yang dihasilkan juga masih rendah dengan tingkat broken di atas 20 persen dan tidak seragam.
 
“Selain itu biaya pengolahan masih tinggi atau belum efisien dan tingkat kehilangan hasil relatif masih tinggi. Manajemen pengelolaannya juga masih tradisional. Sementara penggilingan padi keliling berkembang tapi kurang memperhatikan aspek mutu beras,” terangnya.

 
Dalam proses penggilingan padi, lanjut dia, mutu beras yang dihasilkan sangat dipengaruhi bahan bakunya yaitu gabah kering giling (GKG). Agar mencapai hasil yang optimal diperlukan model RMU yang mampu menghasilkan beras yang memenuhi mutu fisik yang disyaratkan dalam Permentan Nomor 31 tahun 2017.
 
"Persyaratan mutu standar meliputi kadar air, derajat sosoh, beras kepala, beras patah, total butir beras lainnya, butir gabah, dan benda lain. Kemudian metode analisa mutu beras mengikuti hasil pengujian di laboratorium sesuai SNI 6128 tahun 2015," paparnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(Des)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan