Industri Garam. Foto : MI/Gino Hadi.
Industri Garam. Foto : MI/Gino Hadi.

Kualitas Garam Nasional Diupayakan Terus Meningkat

Ekonomi garam
Antara • 29 Juni 2020 14:13
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan produksi dan kualitas garam nasional. Hal ini seiring kebutuhan garam industri dan konsumsi yang terus meningkat di pasar domestik.
 
“Dengan tren kebutuhan garam yang terus naik, perlu upaya ekstra untuk meningkatkan produksi nasional baik dari sisi kapasitas maupun kualitasnya,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi melalui keterangan tertulisnya, Senin, 29 Juni 2020.
 
Garam industri digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong yang digunakan pada proses produksi pada industri kimia, aneka pangan, farmasi, perminyakan, penyamakan kulit dan water treatment. Berbeda dengan garam konsumsi, garam jenis ini perlu memiliki spesifikasi teknis yang berbeda-beda bergantung pada jenis industrinya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kami berharap peningkatan produksi garam nasional dari baseline 2019 sebesar 2,8 juta ton menjadi 3,5 juta ton pada 2024,” ungkapnya.
 
Menurut Doddy, industri pengolahan garam perlu memanfaatkan teknologi yang tepat guna, efisien, dan modern agar bisa memacu produktivitas dan kualitasnya. Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri juga bakal membuka jaringan kerja sama dengan industri dan instansi-instansi terkait termasuk dengan pemerintah daerah.
 
“Inovasi pengujian kadar garam yodium dalam garam konsumsi merupakan suatu upaya untuk membantu industri kecil menengah (IKM) dalam memantau kualitas produknya. Dengan kualitas produk yang terjaga, tentunya daya saing produk IKM akan meningkat,” ujarnya.
 
Kepala Baristand Industri Surabaya Aan Eddy Antana menyampaikan, pihaknya terus berupaya menunjukkan peran aktifnya dalam mendukung usaha pemerintah memajukan dan meningkatkan kualitas garam nasional.
 
“Salah satu tantangan di IKM garam konsumsi beryodium, adalah perlunya meningkatkan quality control terhadap produk yang dihasilkan, terutama dalam pengujian KIO3 (Kalium iodat),” kata Aan.
 
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 3556-2010 tentang Garam Konsumsi Beryodium, kadar minimal KIO3 yang dipersyaratkan adalah minimal 30 mg/kg atas dasar bahan kering (adbk). Namun, menurut Aan, sebagian kompetensi IKM pengolahan garam di dalam negeri belum mampu memenuhi SNI tersebut sehingga sulit bersaing di pasar.
 
Baristand Industri juga Surabaya telah menciptakan alat uji KIO3 dengan menggunakan titrator otomatis yang dirancang dengan mengacu pada metode titrasi sesuai SNI 3556-2010. Alat uji ini dilengkapi dengan sensor warna dan step counter.
 
Sensor warna tersebut akan membaca perubahan warna endpoint proses titrasi dan memberikan perintah untuk menghentikan titrasi. Informasi yang dihasilkan oleh sensor warna dan sensor jarak disampaikan ke software yang telah dibangun di mikrokontroler untuk dihitung kadar KIO3 dalam sampel garam
 
“Berdasarkan uji yang telah dilakukan, titrator otomatis KIO3 yang dirancang dapat bekerja dengan baik, memberikan hasil uji verifikasi metode yang memenuhi syarat keberterimaan akurasi, presisi dan reproducibility. Alat titrator otomatis tersebut juga terbukti dapat menghasilkan nilai pengujian KIO3 yang stabil,” paparnya.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif