Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Bos Phapros: Indonesia Berpeluang Menjadi Pemain Utama Industri Obat Herbal

Angga Bratadharma • 18 November 2021 14:47
Jakarta: Sebagai negara yang berada di tengah garis khatulistiwa, Indonesia sudah lama dikenal dengan negara yang kaya akan sumber daya alamnya yang artinya bisa dipergunakan sebagai bahan bakar perekonomian. Optimalisasi harus dilakukan terutama di tengah upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah usai ekonomi terhantam covid-19.
 
Direktur Utama Phapros Hadi Kardoko menyampaikan sumber daya alam yang kaya membuat berbagai jenis tanaman obat bisa tumbuh subur di Tanah Air. Berdasarkan data LIPI pada 2020, Indonesia merupakan negara dengan megabiodiversitas terbesar keempat di dunia yang memiliki lebih dari 29 ribu jenis tanaman, dengan 2.484 di antaranya adalah tanaman obat.
 
"Potensi pengembangan obat herbal di Indonesia didukung dengan perilaku masyarakat kita yang sebagian besar lebih memilih pengobatan secara tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan yang bisa diperoleh di alam sekitar daripada menggunakan obat kimia," terangnya, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 18 November 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia ini juga sudah dimanfaatkan industri farmasi untuk membuat obat herbal fitofarmaka atau yang kini juga dikenal dengan sebutan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI), yakni obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik (pada hewan percobaan) dan uji klinik (pada manusia).
 
"Bahan baku dan produk jadinya sudah distandarisasi," katanya.
 
Salah satu industri yang sudah memanfaatkan obat bahan alam tersebut adalah PT Phapros, Tbk. Emiten berkode saham PEHA ini memiliki dua dari 23 produk obat herbal fitofarmaka yang memiliki izin edar dari BPOM RI. Phapros memiliki Tensigard yang diformulasikan sebagai anti hipertensi.
 
"Dengan komposisi ekstrak seledri (Apium graveolens) 75 persen dan ekstrak kumis kucing (Orthosiphon stamineus) 25 persen," tukasnya.
 
Selain itu, tambahnya, ada X-Gra yang berfungsi meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh pada pria, memperbaiki kualitas sperma, serta mengatasi masalah ejakulasi dini. Terbuat dari ekstrak Ganoderma lucidum (jamur Ling Zhi), ekstrak Eurycomae radix, ekstrak ginseng, ekstrak Retrofracti fructus (lada hitam) dan Royal jelly.
 
Pengembangan obat herbal fitofarmaka masih sangat sedikit di Indonesia, hal ini tak lepas dari berbagai tantangan yang ada. Beberapa tantangan tersebut di antaranya adalah sumber daya alam tumbuhan yang belum dikelola secara optimal, biaya riset yang besar, proses riset yang lama, dan harga jual produk herbal yang seringkali lebih mahal dari produk kimia.
 
"Namun, seiring Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan dan dibentuknya Satgas Percepatan Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka oleh BPOM, diharapkan pengembangan obat fitofarmaka di Indonesia bisa kian terarah dan dapat dilakukan secara massif," tutupnya.
 
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif