Ilustrasi bisnis restoran - - Foto: MI/ Atet
Ilustrasi bisnis restoran - - Foto: MI/ Atet

PPKM Turun Level, Bisnis Kafe dan Resto Kembali Menggeliat

Media Indonesia.com • 31 Maret 2022 10:50
Jakarta: Industri kafe dan resto kembali menggeliat setelah pemerintah menurunkan level pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau membolehkan aktivitas di publik berjalan 100 persen.
 
Hal ini memberikan angin segar bagi pelaku usaha untuk menjalankan bisnisnya secara hibrida dan simultan baik dengan sistem online maupun offline.
 

"Sekaranglah saatnya untuk kembali menjalankan bisnis kafe dan resto secara offline lagi. Enggak ada salahnya sistem online dan offline berjalan simultan," kata Ketua Bidang Pelatihan Bisnis Asosiasi Pengusaha Kuliner Indonesia (Apkulindo) Pusat Giri Buana, dalam sebuah webinar, Kamis, 31 Maret 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Giri, industri kafe dan restoran selama ini mengalami pukulan berat akibat pandemi. Salah satu faktornya yakni pembatasan aktivitas sosial sekalipun pengusaha banyak yang berusaha mengompensasi penurunan income dengan menggenjot penjualan secara online.
 
Kini, bisnis kafe dan resto untuk dine in alias makan di tempat pun diyakini punya prospek yang bagus, seiring dengan keinginan banyak orang untuk kembali bersosialisasi.
 
Di sisi lain, para pelaku usaha bisa menjalankan bisnis offline yang masih punya potensi besar dengan sistem online yang dibangun untuk beradaptasi dengan zaman dan hantaman pandemi.
 
"Ini kesempatan, karena salah satu pangsa pasar terbesar adalah beraktifitasnya anak sekolah dan kantor. Itu membuat kami optimistis untuk kembali membangun bisnis kuliner. Asal punya konsep dan target market yang jelas," terang dia.
 
Sepanjang 2019, total Usaha Penyedia Makan Minum di Indonesia mencapai 4.008.927 usaha. Jumlah tersebut terdiri meliputi 12.602 usaha skala menengah besar (UMB) dan 3.996.325 usaha skala menengah kecil (UMK).
 
Selama tahun tersebut, akumulasi pertumbuhan industri makanan minuman (mamin) berhasil menyentuh 7,78 persen (cumulative to cumulative/coc). Namun, pertumbuhan itu tiba-tiba terganggu covid-19, sehingga pada 2020 industri mamin nasional hanya tumbuh 1,58 persen (coc).  
 
"Selain alasan menjaga kesehatan, penurunan pertumbuhan industri mamin tersebut kami prediksi juga terjadi karena masyarakat mengurangi pengeluaran. Hal ini merupakan hasil analisis kami berdasarkan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan peningkatan total simpanan bank pada awal 2022," kata CEO Pusat Riset Visi Teliti Saksama Rikando Somba.
 
Hal ini sejalan dengan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Per Januari 2022 yang menyebutkan nilai total simpanan bank umum tercatat sebesar Rp7.439 triliun. Jumlah tersebut naik sebesar Rp800,4 triliun atau bertambah sebanyak 12,06 persen (YoY).
 
Pertumbuhan jumlah simpanan itu menurutnya tak terlepas dari masih adanya sikap yang terpecah di masyarakat. Di satu sisi, ada kelompok masyarakat yang optimistis, kondisi sudah aman dan pandemi segera berakhir Di sisi lain, masih ada kelompok masyarakat yang masih khawatir dengan pandemi.
 
Uniknya, dari hasil survei yang ada, kata Rikando, dua kelompok ini sama-sama punya keinginan untuk keluar menikmati kuliner secara dine in di kafe atau resto untuk melepas penat. Sikap inilah yang menjadi potensi besar dari bisnis kafe dan resto secara offline.
 
"Dari dua kelompok ini, ada satu kesamaan, sama-sama sebenarnya ingin keluar menikmati kuliner, berwisata dan sebagainya. Dari beberapa segmen responden yang kami riset, ada yang menghabiskan Rp1 juta-Rp5 juta per bulan per individu untuk wisata kuliner atau ngopi. Bahkan ada yang sampai menghabiskan Rp30 juta meskipun jumlahnya hanya tiga persen,” tutur Rikando.
 
Sementara itu, di tengah fokus untuk menggarap potensi bisnis kafe dan resto konvensional, Asisten Deputi Konsultasi Bisnis dan Pendampingan Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Destry Anna Sari mengingatkan para pelaku UMKM khususnya di sektor kuliner untuk serius melakukan digitalisasi usaha.
 
Ia menyebut saat ini ada 64,2 juta UMKM di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup 99,9 persen usaha di Nusantara. Sayangnya, dari 99 persen populasi usaha, hanya 18,83 persen yang sudah terhubung secara digital.
 
"Sektor kuliner merupakan potensial winner di masa pandemi, apalagi yang memperhatikan aspek kesehatan, ramah lingkungan dan berbasis alam," ujarnya.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif