Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim menunjukkan maket stasiun dan pintu masuk MRT di Monas. Foto: Medcom.id/Syah Sabur.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim menunjukkan maket stasiun dan pintu masuk MRT di Monas. Foto: Medcom.id/Syah Sabur.

MRT Serius Menangani Pohon yang Terkena Dampak Proyek

Ekonomi mrt Proyek MRT
Syah Sabur • 12 Agustus 2020 20:05
Jakarta: Direksi MRT Jakarta sangat serius menangani pohon yang terkena dampak proyek pembangunan fase kedua. Hal ini terutama karena fase dua berada di area ring satu yang menjadi lokasi keberadaan Istana Negara, Bank Indonesia, Hotel Indonesia, dan kawasan Monas.
 
Menurut Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim, di ring satu juga terdapat banyak pohon dan cagar budaya. Mereka bertekad tidak merusak satu pun pohon yang umurnya minimal puluhan tahun.
 
Silvia juga menyatakan, jumlah pohon yang terdampak pembangunan kedua ini mencapai sekitar 815 pohon. Dari jumlah tersebut, 235 pohon di antaranya untuk pembangunan stasiun Thamrin dan 580 pohon sisanya untuk pembangunan stasiun Monas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk Stasiun Thamrin, pohon-pohon yang terdampak adalah yang berada di median dan kanan-kiri jalan totalnya adalah sekitar 235 pohon. Dari 235 pohon itu, 171 pohon akan diganti dan ada 64 pohon yang akan direlokasi," ujar Silvia, dalam Forum Jurnalis MRTdi Jakarta, Rabu, 11 Agustus 2020.
 
Selanjutnya untuk kawasan Monas ada dua lokasi, pertama untuk pembangunan entrance di Jalan Museum terdapat 55 pohon yang harus diganti. Kemudian untuk pembangunan stasiun itu sendiri yang ada di dalam area Monas terdapat total 580 pohon yang terdampak. Dari 580 pohon yang terdampak itu, 430 pohon akan diganti, sedangkan 150 sisanya akan direlokasi atau dipindahkan.
 
Sesuai dengan arahan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, pohon-pohon tersebut akan direlokasi dan ditanam kembali di area Kebon Bibit Srengseng, Jakarta Barat. Sedangkan, pohon-pohon yang diganti akan diganti dengan instant tree atau pohon yang sudah tumbuh besar yang siap tanam.
 
"Pohon yang terdampak akan diganti dengan instant tree jadi langsung diganti dengan pohon besar yang sekitar 40 cm. Pohon yang digantikan itu maksudnya dicabut, pohon yang dicabut itu akan dibawa ke tempat penampungan milik Dinas Pertamanan dan Perhutanan Kota Provinsi DKI Jakarta," ungkapnya, sambil menambahkan, untuk menangani masalah pohon, pihak MRT mengeluarkan dana sebesar Rp4 miliar-Rp5 miliar.
 
Semua pohon itu terdari dari berbagai jenis, seperti flamboyan, termbesi, pulai, bodhi, dan kigelia. Ada pula pohon tabebaya, bungur, buttercup, dan spathode.

Observasi Fisik Pohon

Untuk mengetahui kelayakan pohon dilakukan observasi fisik dan USG kondisi pohon. Dalam tahap ini, tim akan mencatat berbagai hal, seperti jenis pohon, lokasi pohon, kondisi akar, batang, dan daun, juga diameter batang dan akar.
 
"Kita cek, apakah pohon itu sehat atau keropos. Kalau keropos, harus dipastikan pula berapa persen tingkat kerusakannya. Semua itu ada pedomannya bagaimana pohon tersebut harus diperlakukan. Intinya kalau pohon ini tidak sehat maka akan diganti saja. Sebaliknya, kalau pohonnya dalam kondisi sehat dengan tingkat hidup yang tinggi, maka pohon tersebut akan direlokasi," tuturnya.
 
Sesuai rekomendasi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, pohon-pohon yang statusnya akan direlokasi dan ditanam kembali di area Kebon Bibit Srengseng, Jakarta Barat. Sedangkan, pohon-pohon yang diganti, kayunya akan dibawa ke tempat penimbunan kayu di Pondok Pinang di Jakarta Selatan milik Dinas Pertanaman Kota Provinsi DKI Jakarta.
 
"Pohon yang akan direlokasi itu akan disimpan di Kebun Bibit itu, lalu akan dimanfaatkan oleh rekan-rekan Dinas Pertamanan mungkin ditanam ke tempat lain. Sedangkan, pohon yang diganti, sisa kayunya itu akan diolah lagi, dibuat menjadi nilai tambah lagi, jadi tidak dibuang begitu saja," ungkapnya.
 
Direktur Konstruksi PT MRT juga menjelaskan, relokasi pohon di area Monas dan Thamrin yang terdampak pembangunan MRT bakal menggunakan metode root balling. Root ball atau bulatan merupakan salah satu proses transplantasi di mana akar pohon dibungkus dan diikat pada bagian akar. Meski demikian akan disisakan satu atau dua akar utama agar tanaman tetap berdiri pada posisinya dan masih dapat menyerap unsur hara.
 
"Tahapan pertamanya akan kita lakukan root balling. Root balling itu nanti kita ekspose akar pohon tersebut untuk mengondisikan si pohon tersebut. Nah begitu sudah siap, pohon tersebut akan diangkat dan dipindahkan ke lokasi yang sudah ditentukan," ucap Silvi di Monas, Jakarta Pusat.
 
Komitmen menjaga lingkungan juga dinyatakan Komisaris Utama MT, Muhammad Syaugi. Syaugi memastikan pihaknya bakal mengganti pohon-pohon yang terdampak tersebut dengan yang lebih baik.
 
"Dalam pembangunan fase kedua yang dimulai dari Bundaran HI sampai ke Ancol itu melewati dua stasiun, yaitu stasiun di Thamrin dan Monas. Tentunya dalam melewati kedua stasiun itu pasti ada dampak-dampak akibat pemindahan pohon-pohon di area yang akan dilewati MRT, walaupun itu stasiunnya ada di bawah," ujar Syaugi.
 
Menurut Syaugi, PT MRT sejak dari awal berkomitmen untuk melaksanakan tugas ini dengan tidak melanggar aturan dan perundang-undangan. MRT berjanji untuk menjaga kelestarian lingkungan dan cagar budaya. "Kalau ada pohon yang terdampak atau apapun risikonya, kami akan menggantinya," tegasnya.
 
Direktur Utama MRT William Sabandar juga mengemukakan total pohon yang diganti dan direlokasi sebenarnya hanya 867 pohon. Namun PT MRT Jakarta menambah jumlah pohon yang akan ditanam kembali, sehingga total jumlahnya mencapai 1.173 pohon.
 
Selain masalah pohon, pihak MRT juga sangat peduli dengan keberadaan benda cagar budaya sekitar Monas. Sejauh ini, PT MRT Jakarta telah menemukan beberapa temuan fragmen keramik atau piring hingga temuan struktur bata di sekitar Monas. Semua temuan tersebut diamankan oleh arkeologi dari Tim Cagar Budaya DKI Jakarta.
 
Menurut Silvia, jika struktur bata itu merupakan bangunan cagar budaya, pihaknya akan melakukan modifikasi desain agar bangunan kuno tersebut tidak rusak. "Yang jelas, Tim Cagar Budaya memiliki waktu 21 hari sejak penemuan cagar budaya untuk menyampaikan masukan ke MRT. Dengan demikian, kami punya kepastian karena pembangunan MRT tidak boleh ditunda terlalu lama. Sebab, semakin lama ditunda, semakin besar juga kerugiannya," jelas Silvia.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif