Kedelai. Foto ; AFP.
Kedelai. Foto ; AFP.

Pemerintah Diminta Fokus Tingkatkan Produktivitas dan Kualitas Kedelai Nasional

Ekonomi kedelai BPS Ekonomi Indonesia
Suci Sedya Utami • 05 Januari 2021 17:09
Jakarta: Head of Research Center for Indonesia Policy Study (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai pemerintah sebaiknya fokus pada upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai nasional.
 
Selama ini petani kedelai nasional dihadapkan pada berbagai persoalan yang membuat kedelai produksi mereka tidak bisa terserap oleh pasar secara maksimal karena beberapa hal, seperti kualitas dan harga yang tidak bisa bersaing dengan kedelai impor.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kedelai Indonesia sepanjang semester-I 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai USD510,2 juta atau sekitar Rp7,52 triliun (kurs Rp14.700). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Sementara itu kalau dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, total impor kedelai mencapai 2,67 juta ton di 2017, 2,58 juta ton di 2018 dan 2,67 juta ton di 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hal ini yang membuat pengembangan kedelai lokal terhambat. Bahkan tidak jarang petani kedelai menanam komoditas lain. Padahal Indonesia merupakan negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah Tiongkok," kata Filippa dalam keterangan resmi, Selasa, 5 Januari 2021.
 
Ia memaparkan terdapat beberapa hal yang memengaruhi rendahnya produktivitas kedelai nasional. Pertama adalah faktor iklim, kedelai merupakan tanaman yang sebenarnya merupakan tanaman subtropis, sehingga pertumbuhannya di daerah tropis seperti Indonesia menjadi tidak maksimal. Usaha produksi kedelai di Indonesia harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam. Hal ini disebabkan karena petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama.
 
Selain itu, lanjut Felippa, kedelai merupakan jenis tanaman yang membutuhkan kelembaban tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal. Sementara itu di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh air.
 
Kemudian drainase yang buruk juga menyebabkan tanah juga menjadi kurang ideal untuk pertumbuhan kedelai. Permasalahan lahan yang terbatas juga perlu diperhatikan. Ia memaparkan, lahan yang cocok untuk ditanami kacang kedelai harus memiliki kadar pH yang netral dengan kedalaman minimal 20 sentimeter. Jenis lahan seperti ini tidak tersedia di semua wilayah Indonesia.
 
Lebih lanjut, hal lain yang harus diperhatikan yakni penggunaan lahan yang hanya diperuntukkan untuk kedelai. Hal ini dikarenakan usaha produksi kedelai di Indonesia dilakukan pada musim tanam yang tidak selalu ideal untuk pertumbuhan tanaman, karena harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam. Hal ini disebabkan karena petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama. Kedelai masih diposisikan sebagai tanaman penyelang atau selingan bagi tanaman utama padi, jagung, tebu, tembakau, bawang merah atau tanaman lainnya.
 
"Tentu saja meningkatkan produktivitas bukanlah hal mudah, oleh karena diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai, serta investasi. Dengan pembinaan yang intensif maka produktivitas yang lebih tinggi meningkat. Pembinaan dapat dilakukan, antara lain dengan penggunaan benih, pupuk dan sarana produksi lain yang tepat. Pembinaan juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak swasta," jelas Felippa.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif